Sang Maestro yang terlupakan
Siradjuddin Daeng Bantang Penjaga
Suara Sinrilik dan Warisan Lisan Makassar
Dari Desa Taeng, Gowa, suara sinrilik menembus
zaman. Di balik gesekan keso’-keso’ dan lantunan paruntuk kana serta pappasang
tu riolo, Siradjuddin Daeng Bantang
mendedikasikan hidupnya untuk menjaga ingatan, nilai, dan kebudayaan masyarakat
Makassar agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Nama
Siradjuddin Daeng Bantang tidak asing bagi masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya
mereka yang menaruh perhatian pada seni dan kebudayaan Makassar. Namanya
melekat erat dengan perkembangan sinrilik,
salah satu bentuk sastra lisan tradisional Makassar yang memadukan kemampuan
bertutur, sastra, musik, sejarah, dan pesan moral.
Sinrilik
bukan sekadar pertunjukan seni. Di dalamnya tersimpan ingatan kolektif
masyarakat. Melalui cerita yang dituturkan oleh seorang pasinrilik,
berbagai kisah masa lalu, nasihat, nilai kehidupan, serta pappasang tu riolo pesan-pesan
orang terdahulu diteruskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Dalam
tradisi tersebut, suara manusia menjadi media penyimpan sejarah. Gesekan
alat musik keso’-keso’
mengiringi suara pasinrilik ketika menyampaikan cerita. Kata-kata tidak
sekadar menjadi hiburan, tetapi membawa pesan dan makna yang berhubungan dengan
kehidupan masyarakat.
Siradjuddin Daeng Bantang pernah menjelaskan bahwa pada masa lalu seorang pasinrilik
dapat berulang kali datang ke istana untuk menyampaikan pesan dari raja kepada
rakyat. Agar pesan tersebut menarik perhatian, pesan disampaikan melalui gaya
bertutur yang indah, tetapi tetap mengandung isi dan makna.
Dengan
demikian, sinrilik pada masa lalu memiliki posisi yang lebih luas daripada
sekadar seni pertunjukan. Ia menjadi salah satu sarana komunikasi budaya,
tempat nilai, sejarah, dan nasihat disampaikan kepada masyarakat melalui bahasa
yang mudah diterima dan diingat.
Dari Taeng Menjaga Tradisi Makassar
Siradjuddin Daeng Bantang lahir pada 14
November 1946. Ia kemudian dikenal sebagai salah satu figur penting
dalam perjalanan seni budaya Makassar.
Keterikatannya
dengan Desa Taeng, Gowa, menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup dan
kebudayaannya. Taeng bukan sekadar tempat kelahirannya, tetapi juga menjadi
ruang sosial dan budaya yang mempertemukannya dengan tradisi masyarakat
setempat.
Pada
dekade 1970-an, bersama Andi Idjo dan
Andi Tjoneng, Siradjuddin Daeng Bantang mendirikan Sanggar
Seni Batara Gowa. Sanggar tersebut kemudian menjadi salah satu ruang
penting bagi pengembangan dan pengenalan seni budaya Makassar.
Melalui
aktivitas sanggar, kebudayaan Makassar tidak hanya diperkenalkan kepada
masyarakat lokal. Seni tradisi juga dibawa ke berbagai tempat dan diperkenalkan
hingga ke luar Indonesia.
Dedikasi
tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup dilakukan dengan
menyimpan tradisi di dalam ruang tertentu. Kebudayaan harus dipelajari,
dipentaskan, diperkenalkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pada
tahun 1986, Siradjuddin Daeng Bantang juga mendirikan Sanggar
Siradjuddin dan menjadi pembina hingga akhir hayatnya.
Sinrilik di Tengah Perubahan Zaman
Salah
satu kegelisahan terbesar Siradjuddin Daeng Bantang adalah semakin langkanya
generasi yang menguasai seni sinrilik.
Perubahan
zaman membawa tantangan besar bagi seni tradisi. Tradisi lisan yang dahulu
hidup dalam ruang sosial masyarakat perlahan menghadapi persaingan dengan
bentuk hiburan dan media baru.
Siradjuddin Daeng Bantang tidak hanya memilih menjadi pelaku seni, tetapi juga
berusaha mencari jalan agar sinrilik dapat bertahan dalam kehidupan generasi
muda.
Salah
satu gagasannya adalah mendorong agar sinrilik
diperkenalkan melalui pendidikan sekolah.
Gagasan
tersebut memiliki arti penting. Ketika tradisi lisan mulai kehilangan ruang
dalam kehidupan sehari-hari, pendidikan dapat menjadi salah satu jalan untuk
memperkenalkan kembali pengetahuan budaya kepada generasi muda.
Bagi
Siradjuddin Daeng Bantang, melestarikan sinrilik bukan sekadar mempertahankan bentuk
pertunjukannya. Yang lebih penting adalah menjaga nilai, bahasa, cerita, dan
pandangan hidup yang terdapat di dalamnya.
Dari Panggung Lokal ke Dunia Internasional
Perjalanan
Siradjuddin Daeng Bantang tidak berhenti di panggung-panggung lokal Sulawesi Selatan. Ia
memperkenalkan seni sinrilik ke berbagai wilayah di luar Indonesia. Dalam
perjalanan keseniannya, sinrilik dibawanya ke berbagai kawasan di Asia,
Amerika, dan Eropa.
Pada
1980, ia disebut berhasil meraih
penghargaan sebagai koreografer terbaik
Indonesia. Beberapa tahun kemudian, pada Canada Ekspo 1986, ia juga tercatat masuk dalam kategori tiga besar seniman
terbaik.
Pengalamannya
sebagai pengajar turut memperluas ruang pertukaran budaya. Ia pernah menjadi
tenaga pengajar seni sinrilik di Australia selama tiga bulan.
Perjalanan
tersebut memperlihatkan bahwa kesenian tradisional yang tumbuh dari masyarakat
lokal sesungguhnya dapat berbicara kepada dunia ketika memiliki pelaku yang
mampu menerjemahkan nilai-nilai budaya tersebut ke dalam bentuk pertunjukan
yang dapat dipahami oleh masyarakat luas.
Sinrilik, Televisi, dan Radio
Bagi
banyak masyarakat Sulawesi Selatan, Siradjuddin Daeng Bantang juga dikenal melalui media massa. Ia
menekuni dan menampilkan seni sinrilik melalui TVRI Makassar sejak awal dekade 1980-an hingga sekitar tahun 2010.
Televisi
menjadi salah satu medium penting dalam memperluas jangkauan sinrilik.
Pertunjukan yang sebelumnya lebih banyak hadir dalam ruang sosial masyarakat
dapat dinikmati oleh penonton melalui layar televisi.
Salah
satu penampilan yang dikenang adalah ketika ia membawakan kisah Syekh Yusuf. Dalam pertunjukan
tersebut, ia tidak hanya menyampaikan cerita sejarah, tetapi juga menyisipkan
nasihat mengenai kehidupan.
Hal
tersebut merupakan salah satu kekuatan utama seni tutur: sejarah tidak hanya
diceritakan sebagai masa lalu, tetapi dihubungkan dengan kehidupan manusia pada
masa kini.
Siradjuddin Daeng Bantang juga hadir melalui radio. Ia mengisi acara Sinrilik Rewako di Rewako FM, radio milik Pemerintah
Daerah Kabupaten Gowa, yang disiarkan setiap Kamis malam.
Radio
menjadi ruang lain bagi sinrilik untuk tetap hidup. Suara, cerita, dan pesan
budaya dapat menjangkau masyarakat tanpa harus menghadirkan pertunjukan secara
langsung.
Syekh Yusuf dan Dunia Sufisme
Perhatian
Siradjuddin Daeng Bantang terhadap sejarah dan kehidupan Syekh Yusuf menjadi bagian penting dalam karya-karyanya.
Ketertarikannya
terhadap Syekh Yusuf dan sufisme tercermin dalam sejumlah karya tulis berlatar
religi, antara lain Makrifat Cinta Syekh Yusuf, Santri Lembah Selatan,
Kelong-kelong Sufi, Gadis Berjilbab Mencari Allah, Adzan di
Bukit Hidayah, serta Syech Yusuf Menuntun Kita Ke Surga.
Karya-karya
tersebut memperlihatkan keluasan perhatian Siradjuddin Daeng Bantang. Ia tidak hanya menempatkan seni sebagai pertunjukan,
tetapi juga sebagai medium untuk membicarakan sejarah, agama, moral,
kemanusiaan, dan pencarian spiritual.
Ia
juga menulis sejumlah karya lain, di antaranya Kisah Nyata Anak Pagandeng Jadi
Dokter, Sastra Makassar, dan Guru Sebagai Pendidik yang Humanis.
Sementara
itu, salah satu naskah yang belum sempat diselesaikannya adalah Sinrili Kappala Talambatua, yang
mengangkat kisah hubungan antara Kerajaan
Bone dan Kerajaan Gowa.
Ia
juga menyiapkan naskah sinrilik mengenai Syekh Yusuf yang direncanakan untuk
dipentaskan di Afrika Selatan, bersamaan dengan rencana peresmian replika Balla Lompoa sebagai museum Syekh
Yusuf di negara tersebut.
Maestro yang Mengabdikan Hidup pada Kebudayaan
Dedikasi
panjang Siradjuddin Daeng Bantang terhadap kebudayaan kemudian memperoleh pengakuan melalui
penganugerahan gelar Maestro Budaya
oleh Departemen Kebudayaan Republik Indonesia.
Pengakuan
tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuannya sebagai pelaku seni. Perjalanan
Sirajuddin Siradjuddin Daeng Bantang memperlihatkan sebuah pengabdian yang lebih luas: menjadi
pelaku, pengajar, pencipta, penulis, sekaligus penggerak pelestarian
kebudayaan.
Ia
hidup pada masa ketika seni tradisional menghadapi perubahan besar. Namun ia
memilih untuk membawa tradisi tersebut masuk ke berbagai ruang baru sanggar,
sekolah, televisi, radio, hingga panggung internasional.
Di
situlah pentingnya membaca kembali perjalanan Siradjuddin Daeng Bantang. Ia bukan hanya seorang yang memainkan keso’-keso’ dan
menuturkan sinrilik. Ia adalah bagian dari mata rantai pewarisan kebudayaan.
Suara yang Berhenti, Warisan yang Tetap Hidup
Pada
14 Mei 2010, Siradjuddin Daeng Bantang meninggal dunia di Rumah Sakit Islam Faisal Makassar dalam
usia 64 tahun. Ia
kemudian dimakamkan di kampung halamannya, Desa Taeng, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa.
Kepergiannya
mengakhiri perjalanan seorang seniman, tetapi tidak seharusnya mengakhiri suara
yang selama hidupnya ia perjuangkan. Sebab sinrilik bukan hanya tentang
seorang pasinrilik. Sinrilik adalah bagian dari ingatan budaya yang
diwariskan melalui suara.
Di
balik gesekan keso’-keso’, terdapat cerita. Di balik cerita, terdapat sejarah. Di
balik sejarah, terdapat nilai. Dan di balik nilai tersebut terdapat
pesan dari generasi terdahulu kepada generasi yang akan datang.
Siradjuddin Daeng Bantang telah memainkan perannya dalam rantai panjang tersebut. Dari panggung-panggung budaya di Sulawesi Selatan hingga ruang-ruang internasional, ia membawa suara tradisi Makassar agar tetap terdengar.
Kini
tantangannya berpindah kepada generasi berikutnya. Jika suara para pasinrilik berhenti, siapa
yang akan menceritakan kembali ingatan itu?
Karena
itu, mengenang Siradjuddin Daeng Bantang bukan semata-mata mengenang seorang maestro. Lebih jauh, ia
adalah momentum untuk kembali melihat sinrilik sebagai bagian dari kekayaan
pengetahuan dan identitas budaya Makassar.
Warisan
itu tidak cukup hanya dikenang. Ia harus dipelajari, dipentaskan, didokumentasikan, diajarkan, dan diwariskan. Sebab
selama masih ada yang mau menuturkan, selama masih ada yang mau mendengar,
selama masih ada generasi yang mau belajar suara
sinrilik tidak akan benar-benar hilang dari tanah Makassar.

Komentar
Posting Komentar