Rabu, 16 September 2026

DI BALIK MAHKOTA SOMBAYYA

 

 Menelusuri Struktur Pemerintahan Kerajaan Gowa 

di Masa Lampau  

Oleh: Daeng Tika

 

 

Sebuah kerajaan tidak menjadi besar hanya karena memiliki raja yang berkuasa. Ia menjadi kuat ketika memiliki tata pemerintahan, adat, hukum, dan masyarakat yang mampu menopang kekuasaannya. Nama Gowa tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang Sulawesi Selatan. Dalam perjalanan sejarah Nusantara, Gowa tumbuh menjadi salah satu kekuatan politik dan maritim penting di kawasan timur Indonesia. Perkembangannya mencapai momentum besar terutama sejak abad ke-16, ketika Gowa memperluas pengaruh politik dan ekonominya serta membangun hubungan perdagangan dengan berbagai wilayah.

Namun, di balik nama-nama besar seperti Karaeng Tumapa'risi' Kallonna, Tunipallangga, Sultan Alauddin, Sultan Malikussaid, dan Sultan Hasanuddin, terdapat sebuah sistem pemerintahan yang menopang perjalanan kerajaan tersebut.

Kerajaan tidak berjalan hanya atas kehendak seorang raja,

Ada dewan adat.

Ada pembesar kerajaan.

Ada panglima.

Ada pejabat hukum.

Ada pemimpin agama.

Ada pengelola pelabuhan.

Ada pemimpin wilayah.

Dan ada perangkat pemerintahan yang berhubungan langsung dengan masyarakat.

Memahami struktur inilah yang membantu kita melihat Gowa bukan sekadar sebagai sebuah nama dalam sejarah peperangan, tetapi sebagai sebuah masyarakat politik dengan tata pemerintahan yang memiliki lapisan dan fungsi masing-masing.


DARI SEMBILAN NEGERI MENUJU KEKUATAN GOWA 

Tradisi sejarah Gowa menghubungkan pembentukan awal kerajaan dengan Bate Salapang, yang dalam sejumlah sumber dipahami sebagai konfederasi sembilan negeri.

Kajian mengenai Kota Raja Tamalate menyebut bahwa sebelum terbentuknya kerajaan, terdapat negeri-negeri atau Bori' yang berdiri sebagai negeri bebas dan berdaulat. Dalam perkembangannya, muncul konfederasi Bate Salapang, yang kemudian menjadi salah satu fondasi terbentuknya Kerajaan Gowa.

Sementara itu, penelitian mengenai identitas Kerajaan Gowa berdasarkan koleksi Museum Balla Lompoa juga mencatat tradisi mengenai sembilan negeri awal Gowa dan kemunculan Tumanurung Bainea sebagai figur yang kemudian ditempatkan sebagai raja pertama dalam silsilah Gowa.

Di sinilah sejarah Gowa memperlihatkan satu hal penting: kerajaan tidak muncul dari ruang kosong.

Ada masyarakat.

Ada negeri-negeri.

Ada pemimpin-pemimpin lokal.

Ada hubungan adat.

Dan ada kebutuhan untuk membangun sebuah tatanan politik yang lebih luas.


SOMBAYYA PUSAT KEKUASAAN KERAJAAN 

Pada puncak struktur pemerintahan berdiri Sombayya Ri Gowa, gelar bagi Raja Gowa. Dalam tradisi Gowa, kedudukan Sombayya memiliki dimensi politik sekaligus kultural. Raja bukan hanya kepala pemerintahan, tetapi menjadi pusat dari tata kekuasaan kerajaan.

Kisah mengenai Tumanurung Bainea menjadi bagian penting dalam tradisi asal-usul kerajaan. Namun, kisah Tumanurung perlu ditempatkan sebagai bagian dari tradisi sejarah dan lontara, bukan diperlakukan begitu saja sebagai fakta sejarah modern yang seluruh detailnya telah dapat diverifikasi secara dokumenter.

Penelitian mengenai sumber sejarah Gowa menunjukkan bahwa sejarah awal kerajaan masih menghadapi keterbatasan sumber. Informasi mengenai masa awal Gowa berasal dari berbagai tradisi, lontara, peninggalan, serta sumber dari luar Sulawesi Selatan.

Karena itu, Tumanurung bukan sekadar tokoh dalam cerita masa lalu. Ia juga merupakan bagian penting dari cara masyarakat Gowa menjelaskan legitimasi kekuasaan dan asal-usul pemerintahan mereka.

 

PABBICARA BUTTA TANGAN KANAN PEMERINTAHAN

Di bawah Raja terdapat pejabat-pejabat kerajaan yang membantu menjalankan pemerintahan. Salah satu yang penting adalah Pabbicara Butta. Dalam sejumlah uraian mengenai pemerintahan tradisional Gowa, Pabbicara Butta dikaitkan dengan fungsi pembesar pemerintahan atau Mangkubumi, yang membantu Raja dalam mengurus kerajaan.

Hubungan Gowa dan Tallo juga menjadi bagian penting dalam memahami struktur politik ini. Kedua kerajaan memiliki hubungan yang sangat erat dan kemudian dikenal melalui konsep Rua Karaeng Na Se're Ata yang bermakna dua raja, satu rakyat.

Dengan demikian, sistem pemerintahan Gowa tidak dapat dipahami hanya dari hubungan vertikal antara Raja dan rakyat. Di dalamnya terdapat jaringan hubungan antarpenguasa, bangsawan, dewan adat, dan wilayah yang membentuk struktur politik kerajaan.

 

TUMAILALANG PENGHUBUNG RAJA DAN DEWAN KERAJAAN

Nama Tumailalang memiliki posisi penting dalam struktur pemerintahan Gowa. Tumailalang secara harfiah berkaitan dengan makna “orang dalam”, yakni pejabat yang dekat dengan lingkungan kekuasaan dan istana. Dalam tradisi pemerintahan Gowa dikenal Tumailalang Toa dan Tumailalang Lolo.

Tumailalang Toa memiliki kedudukan penting dalam menyampaikan kehendak Raja kepada unsur-unsur pemerintahan dan adat. Di sinilah terlihat adanya mekanisme komunikasi dalam pemerintahan kerajaan. Raja tidak selalu berhubungan langsung dengan setiap lapisan masyarakat. Perintah bergerak melalui struktur. Aspirasi masyarakat juga bergerak melalui struktur.

Dengan demikian, pemerintahan kerajaan memiliki jalur komunikasi yang menghubungkan pusat kekuasaan dengan wilayah-wilayah di bawahnya.

 

BATE SALAPANG SEMBILAN PANJI, SATU TATA KEKUASAAN

Jika ada satu unsur yang sangat penting untuk memahami akar pemerintahan Gowa, maka Bate Salapang tidak dapat diabaikan. Bate Salapang berkaitan dengan sembilan unsur wilayah atau pemimpin yang memiliki posisi dalam tata pemerintahan dan adat Gowa.

Sumber sejarah menyebut Bate Salapang sebagai dewan kerajaan Gowa. Dalam kajian sejarah Sulawesi Selatan, keberadaan dewan semacam ini menunjukkan bahwa pemerintahan kerajaan tidak semata-mata berpusat pada figur Raja, tetapi juga melibatkan lembaga atau kelompok elite adat dalam tata politik kerajaan.

Yang menarik, sejarah Gowa juga mencatat bahwa hubungan antara Raja dan Bate Salapang tidak selalu bersifat pasif. Pada masa tertentu, dewan kerajaan memiliki posisi politik yang kuat. Sebuah kajian sejarah bahkan mencatat bahwa Raja Gowa ke-13, Tunijallo, pernah diturunkan melalui keputusan musyawarah Dewan Kerajaan bersama Bate Salapang.

Fakta tersebut memberi gambaran penting, kekuasaan Raja dalam tradisi politik Gowa memiliki hubungan dengan adat dan struktur elite kerajaan. Dengan kata lain, mahkota tidak berdiri sendirian.

 

PACCALLAYYA DAN TATA HUKUM

Kerajaan yang besar membutuhkan hukum. Karena itu terdapat pula jabatan yang berkaitan dengan penyelesaian perkara dan ketertiban kerajaan, salah satunya Paccallayya.

Paccallayya berkaitan dengan fungsi hukum dan penyelesaian persoalan yang terjadi di lingkungan kerajaan. Keberadaan unsur seperti ini memperlihatkan bahwa masyarakat Gowa memiliki mekanisme untuk menyelesaikan persoalan, menjaga ketertiban, serta mengatur hubungan antara kekuasaan dan masyarakat. Hukum pada masa itu tentu tidak dapat disamakan begitu saja dengan sistem peradilan negara modern.

Namun, keberadaan perangkat hukum memperlihatkan bahwa kehidupan kerajaan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, melainkan juga oleh aturan dan tata tertib.

 

ANRONG GURU DAN PEMERINTAHAN WILAYAH

Semakin luas wilayah kekuasaan, semakin kompleks pula kebutuhan pemerintahannya. Karena itu, pemerintahan Gowa memiliki pemimpin-pemimpin wilayah yang menjalankan pemerintahan di daerah masing-masing.

Salah satunya adalah Anrong Guru. Anrong Guru dapat dipahami sebagai pemimpin atau panutan dalam suatu wilayah, yang memiliki hubungan dengan struktur bangsawan dan pemerintahan kerajaan. Mereka menjalankan pemerintahan wilayah berdasarkan tata aturan kerajaan dan menjadi penghubung antara masyarakat dengan pemerintahan yang lebih tinggi.

Dari sinilah terlihat bahwa kekuasaan kerajaan memiliki struktur berlapis:

Raja → pembesar kerajaan → pemimpin wilayah → pemimpin kampung → masyarakat.

Struktur tersebut memungkinkan perintah kerajaan menjangkau wilayah yang lebih luas.

 

JANNANG DAN SURO PEMERINTAHAN DI TINGKAT MASYARAKAT

Pada lapisan yang lebih dekat dengan masyarakat terdapat Jannang dan Suro. Jannang merupakan pemimpin pada wilayah kampung atau komunitas tertentu. Sementara Suro menjalankan fungsi koordinasi masyarakat dalam lingkup yang lebih kecil.

Keduanya menunjukkan bahwa pemerintahan kerajaan tidak berhenti di lingkungan istana. Ada perangkat yang bekerja sampai ke tingkat masyarakat. Perintah dari pusat diteruskan ke wilayah. Sebaliknya, persoalan masyarakat dapat diteruskan kembali ke atas melalui struktur pemerintahan tersebut.

Dengan demikian, sistem pemerintahan tradisional Gowa memiliki jaringan administratif dan sosial yang memungkinkan kerajaan mengatur masyarakat dalam wilayah yang luas.

 

ANRONG GURU LOMPOA TUKKAJANNANGNGANG KEKUATAN PERTAHANAN

Sebagai kerajaan yang berkembang menjadi kekuatan politik dan maritim, Gowa membutuhkan sistem pertahanan yang kuat. Dalam struktur pemerintahan dan kemiliterannya dikenal jabatan Anrong Guru Lompoa Tukkajannangngang, yang dalam tradisi sering dikaitkan dengan kepemimpinan tertinggi dalam urusan perang dan pertahanan. Kekuatan militer menjadi salah satu faktor penting dalam ekspansi politik Gowa  pada abad ke-16 dan ke-17.

Namun, kekuatan tersebut tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari sistem pemerintahan yang melibatkan Raja, pejabat kerajaan, pemimpin wilayah, dan masyarakat yang dapat dimobilisasi dalam kepentingan kerajaan.

 

DAENGTA KALIA KETIKA ISLAM MASUK KE DALAM STRUKTUR KERAJAAN

Salah satu perubahan terbesar dalam sejarah Gowa terjadi pada awal abad ke-17 ketika Islam diterima sebagai agama kerajaan. Penelitian mengenai identitas Kerajaan Gowa mencatat bahwa I Mangerangi Daeng Manrabia, Raja Gowa XIV, memeluk Islam pada 22 September 1605 dan kemudian bergelar Sultan Alauddin. Raja Tallo, I Malingkang Daeng Manyonri Karaeng Katangka, juga lebih dahulu memeluk Islam dan bergelar Sultan Abdullah Awalul Islam.

Islam kemudian menjadi bagian penting dalam kehidupan politik dan sosial kerajaan. Dalam struktur pemerintahan dikenal pula Daengta Kalia, yang berkaitan dengan fungsi keagamaan dan hukum Islam. Perubahan ini menunjukkan bahwa pemerintahan Gowa mengalami perkembangan.

Struktur lama tidak serta-merta hilang. Sebaliknya, unsur baru terutama Islam masuk dan menjadi bagian dari kehidupan kerajaan.

 

SABANNARA' KETIKA PELABUHAN MENJADI URAT NADI KERAJAAN

Gowa juga dikenal sebagai kekuatan maritim dan perdagangan. Salah satu faktor penting dalam perkembangan tersebut adalah Somba Opu. Pada masa pemerintahan Karaeng Tumapa'risi' Kallonna, pusat pemerintahan Gowa bergerak dari kawasan Tamalate menuju wilayah pesisir. Pembangunan Somba Opu kemudian menjadi salah satu fondasi perkembangan Gowa sebagai kerajaan maritim dan pusat perdagangan.

Pelabuhan membutuhkan tata kelola, Kapal datang membawa barang, Pedagang dari berbagai wilayah bertemu, Pajak dan perdagangan harus diatur. Karena itu muncul pula jabatan Sabannara', yang berkaitan dengan fungsi syahbandar dan pengelolaan aktivitas pelabuhan. Dalam konteks ini, Sabannara' bukan sekadar pejabat pelabuhan. Ia merupakan bagian dari sistem ekonomi kerajaan. Pelabuhan adalah pintu masuk kekayaan. Dan bagi kerajaan maritim, pelabuhan adalah salah satu urat nadi kekuasaan.

 

GOWA ANTARA ADAT, KEKUASAAN, DAN PERDAGANGAN

Jika seluruh struktur tersebut disusun, kita dapat melihat bahwa pemerintahan Gowa memiliki beberapa unsur utama. Kekuasaan Raja sebagai pusat pemerintahan, Dewan adat sebagai salah satu unsur penting dalam tata politik kerajaan. Pembesar kerajaan sebagai penghubung dan pelaksana pemerintahan. Pemimpin wilayah sebagai pengelola daerah. Perangkat masyarakat sebagai penghubung langsung dengan rakyat. Militer sebagai kekuatan pertahanan dan ekspansi. Hukum sebagai penjaga ketertiban. Agama sebagai bagian dari kehidupan kerajaan setelah Islamisasi. Perdagangan dan pelabuhan sebagai fondasi ekonomi maritim.

Semua unsur tersebut saling berhubungan, Itulah yang membuat Gowa berkembang dari sebuah struktur politik lokal menjadi salah satu kekuatan besar di kawasan timur Nusantara.

 

SEJARAH BUKAN SEKADAR NAMA DAN GELAR

Membaca sejarah Gowa tidak cukup hanya dengan menghafal nama Raja, peperangan, atau tahun pemerintahan.

Di balik setiap nama terdapat sistem, Di balik setiap gelar terdapat fungsi, Di balik setiap wilayah terdapat masyarakat, Dan di balik setiap keputusan kerajaan terdapat tata politik yang bekerja.

Karena itu, mempelajari Sombayya, Pabbicara Butta, Tumailalang, Bate Salapang, Paccallayya, Anrong Guru, Jannang, Suro, Daengta Kalia, Sabannara', dan jabatan lainnya bukan hanya mempelajari istilah-istilah lama. Kita sedang mencoba memahami bagaimana masyarakat Gowa pada masa lampau mengorganisasikan kekuasaan dan kehidupan bersama.

 

WARISAN YANG TIDAK SELESAI DI MASA LALU

Gowa memang telah melewati masa kerajaan, Pusat kekuasaan berubah, Struktur pemerintahan berubah, Zaman berubah. Namun warisan sejarahnya tidak berhenti pada masa lalu, Nilai tentang adat, kepemimpinan, keberanian, maritim, perdagangan, agama, dan kehidupan masyarakat tetap menjadi bagian dari pembicaraan mengenai identitas Gowa.

Koleksi Museum Balla Lompoa, misalnya, menunjukkan bagaimana identitas Kerajaan Gowa masih dapat dibaca melalui peninggalan yang merepresentasikan nilai kemaritiman, kejayaan, religiusitas, identitas budaya, dan perjuangan. Karena itu, menjaga sejarah bukan berarti menghidupkan kembali sistem kerajaan. Menjaga sejarah berarti memahami dari mana kita berasal.

 

PENUTUP

Kerajaan Gowa bukan hanya cerita tentang mahkota, Ia adalah cerita tentang bagaimana sebuah masyarakat membangun kekuasaan. Tentang bagaimana adat berdampingan dengan pemerintahan, Tentang bagaimana pelabuhan menghubungkan Gowa dengan dunia, Tentang bagaimana agama masuk dan menjadi bagian dari kehidupan kerajaan, Tentang bagaimana para pemimpin wilayah menghubungkan pusat kekuasaan dengan masyarakat, Dan tentang bagaimana sebuah kerajaan dapat tumbuh menjadi kekuatan besar karena memiliki struktur yang mampu menopang kehidupannya.

Sejarah mungkin telah membawa kita jauh dari masa ketika Sombayya memimpin Gowa. Namun jejaknya masih dapat dibaca Pada lontara, Pada situs dan peninggalan sejarah, Pada nama-nama wilayah, Pada tradisi, Pada bahasa, Pada adat Dan pada ingatan kolektif masyarakat Gowa.

“Karena sebuah bangsa tidak hanya dibentuk oleh masa depannya.

Ia juga dibentuk oleh ingatan terhadap masa lalunya”.


TEMU, KENALI, LESTARI


“Temukan Jejaknya.

Kenali Sejarahnya.

Lestarikan Warisannya”.

Rabu, 19 Agustus 2026

KAMPUNG TAENG

 

Kisah Kampung Taeng Jejak yang Masih Tinggal

Orang-orang tua di Kampung Taeng biasa bercerita bahwa kampung ini sudah ada sejak masa yang sangat lama, sejak tanah Gowa masih diperintah oleh para raja. Mereka tidak selalu menceritakan sejarah dengan tahun dan angka. Sejarah Taeng lebih sering diwariskan lewat cerita. Dari mulut orang tua kepada anak-anaknya, dari keluarga kepada keturunannya, dari mereka yang pernah melihat kepada mereka yang ingin mengetahui.

Begitulah Taeng dikenang, Nama Taeng, menurut cerita yang hidup di masyarakat, berasal dari sebuah pohon yang dahulu tumbuh di wilayah ini. Pohon itu disebut “Poko' Taeng”. Konon, pohon tersebut begitu dikenal sehingga nama itu kemudian melekat pada tempat di sekitarnya. Lambat laun, orang-orang menyebut wilayah ini sebagai Taeng.

Mungkin pohonnya telah lama berubah atau tidak lagi ditemukan seperti dahulu. Waktu memang selalu membawa perubahan. Namun, namanya tetap tinggal. Taeng tetap menjadi Taeng, dan nama itu membawa serta ingatan tentang masa ketika kampung ini masih dikelilingi oleh alam yang berbeda dengan yang terlihat sekarang.

Kampung ini tumbuh tidak jauh dari Sungai Jeneberang. Pada masa lalu, sungai bukan hanya tempat air mengalir menuju laut. Sungai adalah jalan. Melalui sungai, orang-orang bergerak, membawa barang, bertemu dengan orang dari tempat lain, dan menjalin hubungan dengan wilayah-wilayah di sekitarnya.

Dari kawasan Taeng, hubungan itu mengarah pula ke pusat-pusat penting Kerajaan Gowa, termasuk kawasan Benteng Somba Opu. Karena itulah, Taeng tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Kampung ini menjadi bagian dari kehidupan besar Kerajaan Gowa.

Di tempat inilah berbagai keterampilan tumbuh, Ada tangan-tangan yang menenun benang menjadi kain, Ada tangan-tangan yang memukul besi panas hingga berubah menjadi bilah, Ada pula orang-orang yang menjalankan tugas dalam pemerintahan dan kehidupan keagamaan.

Taeng, dalam ingatan masyarakatnya, bukan hanya sebuah tempat tinggal. Kampung ini adalah tempat orang bekerja, belajar, memimpin, berlatih, dan mewariskan pengetahuan.

Kampung Para Penjaga Keterampilan

Pada masa ketika Kerajaan Gowa masih berdiri, setiap keterampilan memiliki arti yang besar. Seorang yang mampu membuat sesuatu dengan tangannya bukan sekadar seorang pekerja. Ia adalah penjaga pengetahuan. Di Kampung Taeng, salah satu pengetahuan itu adalah menenun. Hingga sekarang, suara alat tenun masih dapat ditemukan di kampung ini. Suara kayu yang bergerak, benang yang ditarik dan disusun, serta tangan-tangan yang bekerja dengan sabar menjadi pemandangan yang menghubungkan masa kini dengan masa lalu.

Menjadi penenun membutuhkan kesabaran, Sehelai kain tidak lahir dalam waktu singkat. Benang harus dipersiapkan. Susunan harus diperhatikan. Motif harus diingat. Tangan harus bergerak berulang-ulang. Kesalahan kecil dapat mengubah susunan yang telah dikerjakan berjam-jam.

Di Taeng dikenal beberapa Cura', atau corak tenun, yang menjadi bagian dari warisan masyarakat. Ada cura' caddi, cura' tangnga, dan cura' la'ba'. Nama-nama itu bukan sekadar sebutan bagi pola pada kain. Di dalamnya terdapat pengetahuan yang diwariskan dari para penenun terdahulu.

Dahulu, para perempuan dan keluarga penenun menjaga keterampilan tersebut dengan cara yang sederhana: melihat, mencoba, mengulang, lalu menguasainya. Tidak selalu ada buku untuk menjelaskan bagaimana sebuah corak dibuat. Banyak pengetahuan tinggal di tangan dan ingatan.

Hari ini, waktu telah berubah. Penenun di Taeng menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin atau ATBM. Peralatan berubah, cara produksi menyesuaikan keadaan, tetapi pekerjaan menenun masih bertahan. Di situlah salah satu kekuatan Taeng. Ia tidak sepenuhnya menolak perubahan, tetapi juga tidak ingin kehilangan dirinya. Benang-benang lama masih dirangkai dengan tangan-tangan generasi sekarang.

Ketika Besi Masih Menyala

Selain tenun, Taeng juga pernah dikenal melalui keterampilan menempa bilah pusaka. Tradisi itu melahirkan bilah yang dikenal dengan nama De'de' Taeng. Membayangkan masa itu, mungkin orang dapat membayangkan sebuah tempat penempaan ketika api masih menyala sejak pagi. Besi dipanaskan hingga memerah. Setelah itu, seorang pandai besi mengangkatnya dan meletakkannya di atas landasan. Kemudian palu dipukulkan, Sekali, Dua kali, Berkali-kali.

Setiap pukulan bukan sekadar untuk memukul logam. Di dalam pekerjaan itu ada pengetahuan tentang panas, kekuatan, ketebalan, dan bentuk. Terlalu keras, besi dapat rusak. Terlalu lama dibiarkan dingin, bentuknya tidak dapat lagi dikerjakan dengan baik. Para penempa terdahulu memahami pekerjaan itu melalui pengalaman dan warisan pengetahuan.

Bilah pusaka pada masa itu bukan hanya alat. Bagi masyarakat, ia juga memiliki nilai kehormatan. Ia dapat berkaitan dengan keberanian, martabat, dan sejarah keluarga. Karena itulah, penempaan De'de' Taeng menjadi salah satu bagian penting dalam ingatan budaya masyarakat.

Namun, api penempaan itu kini tidak lagi menyala seperti dahulu. Tradisi penempaan masih dikenang, tetapi kegiatan menempa tidak lagi dijalankan. Menurut cerita yang diwariskan, ada pesan dari leluhur yang harus dihormati. Pesan itu menjadi alasan mengapa tradisi tersebut tidak lagi dilanjutkan dalam bentuk praktik penempaan.

Bagi orang luar, mungkin keadaan itu terlihat sebagai hilangnya sebuah tradisi. Namun, bagi masyarakat yang menjaganya, menghentikan kegiatan justru dapat menjadi bagian dari penghormatan terhadap tradisi itu sendiri. Kadang-kadang, menjaga warisan bukan berarti terus mengulang apa yang dilakukan oleh leluhur. Kadang, menjaga warisan berarti juga menjaga pesan yang mereka tinggalkan.

Api mungkin tidak lagi menyala, Palu mungkin tidak lagi terdengar, Tetapi cerita tentang De'de' Taeng masih tinggal. Dan selama cerita itu masih diingat, jejak tradisi itu belum benar-benar hilang.

Rumah yang Menyimpan Cerita

Jika seseorang berjalan dan memperhatikan Kampung Taeng, ia akan menemukan rumah-rumah tua yang menyimpan kisah lebih dari sekadar bentuk bangunan. Di antaranya terdapat Balla Kamokkingang dan Balla Anrong Guru Taeng. Rumah-rumah ini masih berdiri sebagai saksi perjalanan waktu. Kayu-kayu tua mungkin telah melihat beberapa generasi datang dan pergi. Tangga rumah telah dilalui oleh banyak orang. Di dalam ruang-ruangnya pernah berlangsung pertemuan, pembicaraan, dan kegiatan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat.

Balla Kamokkingang berkaitan dengan keberadaan Anrong Guru Mokking, seorang pejabat yang dalam tradisi masyarakat dikenal memiliki hubungan dengan urusan keagamaan dalam lingkungan Kerajaan Gowa. Sementara itu, Balla Anrong Guru Taeng berkaitan dengan Anrong Guru Taeng, tokoh yang memiliki peranan dalam kehidupan pemerintahan dan masyarakat Taeng.

Dahulu, rumah bukan sekadar tempat seseorang beristirahat bersama keluarganya. Rumah dapat menjadi pusat kehidupan. Di sanalah orang menerima tamu. Di sanalah persoalan dibicarakan. Di sanalah keputusan mungkin diambil. Di sanalah benda-benda penting dijaga. Karena itu, keberadaan rumah-rumah tersebut sangat penting bagi sejarah Taeng.

Masih terdapat pula rumah yang digunakan untuk menyimpan benda-benda regalia yang berkaitan dengan Anrong Guru Taeng. Benda-benda itu dijaga sebagai bagian dari peninggalan dan penghormatan terhadap sejarah kepemimpinan terdahulu. Rumah dan benda tidak dapat berbicara dengan kata-kata. Tetapi bagi mereka yang memahami ceritanya, keduanya menyimpan banyak suara dari masa lalu.

Tempat Orang-Orang Dipersiapkan

Dalam ingatan masyarakat Taeng, kampung ini juga memiliki hubungan dengan proses pembentukan putra-putra kerajaan dan calon tubarani. Tubarani adalah gambaran tentang keberanian. Namun keberanian tidak selalu datang begitu saja. Ia dibentuk melalui latihan, pengalaman, kedisiplinan, dan tanggung jawab.

Dalam masyarakat yang hidup dekat dengan kerajaan, keberanian memiliki arti penting. Seorang laki-laki tidak hanya diharapkan kuat secara fisik, tetapi juga memiliki harga diri dan kesanggupan untuk menjaga kehormatan. Karena itu, Taeng dikenang pula sebagai salah satu tempat yang berkaitan dengan pembentukan manusia-manusia yang dipersiapkan untuk menjalankan peran dalam kehidupan kerajaan.

Tidak semua bagian dari masa lalu itu kini dapat dilihat secara utuh. Banyak yang hanya tinggal dalam cerita. Namun, cerita juga merupakan bagian dari sejarah. Sebab sebelum sejarah ditulis dalam buku, manusia terlebih dahulu menyimpannya dalam ingatan.

Sungai yang Menghubungkan

Sungai Jeneberang terus mengalir melewati perjalanan waktu. Orang-orang datang dan pergi. Kerajaan berubah. Jalan-jalan baru dibangun. Perahu tidak lagi menjadi satu-satunya jalan. Kampung tumbuh semakin ramai. Tetapi sungai tetap menjadi bagian dari lanskap sejarah Taeng.

Pada masa lalu, sungai menjadi jalur yang menghubungkan kampung dengan kawasan lain. Hubungan Taeng dengan Sungai Jeneberang menjadikannya bagian dari pergerakan yang lebih besar dalam wilayah Kerajaan Gowa. Dari aliran-aliran inilah manusia saling bertemu, Barang berpindah, Cerita menyebar, Kebudayaan berkembang.

Karena itu, ketika berbicara tentang sejarah Taeng, sungai tidak dapat dipisahkan dari kisah kampung ini. Sungai adalah salah satu saksi yang diam-diam melihat perubahan. Ia melihat generasi terdahulu, Ia melihat generasi sekarang, Dan mungkin, ia juga akan melihat generasi yang belum lahir.

Taeng yang Tetap Bertahan

Tidak semua yang pernah ada di Kampung Taeng masih dapat ditemukan dalam bentuk yang sama. Penempaan bilah tidak lagi beroperasi. Sebagian cerita mulai jarang diceritakan. Orang-orang yang mengetahui sejarah lama semakin sedikit. Namun, Taeng belum kehilangan seluruh warisannya. Alat tenun masih bergerak. Corak lama masih dikenal. Rumah-rumah kalompoang masih berdiri. Benda-benda peninggalan masih dijaga. Nama-nama para tokoh masih disebut dalam cerita. Itulah yang membuat sebuah kampung tetap memiliki hubungan dengan masa lalunya.

Sejarah bukan hanya tentang sesuatu yang telah selesai. Sejarah juga tentang apa yang masih tersisa. Kadang sejarah tinggal dalam sebuah bangunan, Kadang tinggal dalam sehelai kain, Kadang tinggal dalam benda tua yang disimpan dengan hati-hati, Dan kadang, sejarah tinggal dalam ingatan seorang tua yang sedang bercerita kepada anak cucunya.

Penutup Sebuah Kampung, Sebuah Ingatan

Kampung Taeng adalah kampung yang tumbuh bersama perjalanan sejarah Gowa. Dari nama yang diyakini berasal dari Poko' Taeng, dari kedekatannya dengan Sungai Jeneberang, hingga hubungannya dengan kehidupan Kerajaan Gowa, semuanya membentuk perjalanan panjang kampung ini.

Taeng adalah tempat para penenun menjaga benang dan corak, Tempat para penempa dahulu menjaga api dan besi, Tempat rumah-rumah kalompoang menyimpan jejak kepemimpinan, Tempat benda-benda regalia dijaga sebagai pengingat masa lalu. Dan tempat cerita tentang leluhur terus berusaha bertahan di tengah perubahan zaman.

Mungkin suatu hari nanti, orang-orang tidak lagi dapat menyaksikan semua yang pernah ada di Taeng. Waktu akan terus berjalan. Generasi akan berganti. Bentuk kehidupan akan berubah. Tetapi selama masih ada yang menenun dan mengenal corak leluhurnya, selama rumah-rumah tua masih dirawat, selama nama De'de' Taeng masih disebut, dan selama orang tua masih menceritakan kisah kampungnya kepada generasi muda, maka Taeng akan tetap hidup.

Sebab sebuah kampung tidak hanya dibangun oleh rumah dan jalan. Sebuah kampung dibangun oleh ingatan. Dan selama ingatan itu masih dijaga, Taeng akan selalu memiliki cerita untuk diceritakan kembali.


Senin, 17 Agustus 2026

PROFIL Jamaluddin Sirasaputra Daeng Tika Pencinta, Penggiat Sejarah dan Budaya, serta Warisan Leluhur

 


Jamaluddin Sirasaputra Daeng Tika
Pekerja seni pertunjukan dan penggiat pelestarian seni serta kebudayaan Sulawesi Selatan.

Pendahuluan

Kebudayaan merupakan bagian penting dari jati diri suatu masyarakat. Di dalamnya tersimpan sejarah, nilai, pengalaman, serta pandangan hidup yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Karena itu, menjaga kebudayaan tidak hanya berarti mempertahankan bentuk kesenian atau tradisi, tetapi juga merawat nilai dan makna yang terkandung di dalamnya.

Di tengah perubahan zaman, keberadaan para pelaku seni dan penggiat kebudayaan menjadi sangat berarti. Mereka tidak hanya berperan sebagai pelaku pertunjukan, tetapi juga sebagai penghubung antara warisan masa lalu dengan kehidupan generasi masa kini.

Di antara sosok yang menaruh perhatian terhadap hal tersebut adalah Jamaluddin Sirasaputra, yang lebih dikenal dengan nama Daeng Tika. Lahir di Sungguminasa, Gowa, pada 23 Desember 1979, Daeng Tika tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memiliki hubungan erat dengan dunia seni pertunjukan. Perjalanan hidupnya kemudian membawanya menjadi seorang seniman, penggiat sejarah dan kebudayaan, sekaligus salah satu penggerak pelestarian budaya di Desa Taeng, Kabupaten Gowa.

Tumbuh dalam Keluarga Seniman

Daeng Tika merupakan anak ketiga dari pasangan almarhum Siradjuddin Daeng Bantang dan almarhumah Rukanti Kresnaningsih Daeng Rannu.

Siradjuddin Daeng Bantang dikenal sebagai maestro seni pertunjukan Sulawesi Selatan. Sementara itu, Rukanti Kresnaningsih Daeng Rannu merupakan seorang penari berdarah Jawa yang memiliki latar dalam seni tradisional Jawa Timur.

Lingkungan keluarga tersebut memberikan pengaruh yang kuat terhadap pembentukan Daeng Tika. Sejak berada dalam lingkungan keluarga seniman, ia mengenal seni pertunjukan bukan semata-mata sebagai bentuk hiburan, melainkan sebagai bagian dari kehidupan, identitas, dan kebudayaan.

Warisan keluarga tersebut kemudian menjadi salah satu dasar perjalanan keseniannya. Apa yang diterimanya dari orang tua berkembang menjadi dorongan untuk terus mempelajari, menjalankan, dan meneruskan seni serta kebudayaan kepada generasi berikutnya.

Pendidikan Seni

Daeng Tika menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI). Pendidikan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan profesionalnya sebagai pekerja seni pertunjukan.

Melalui pendidikan kesenian, pengalaman keluarga bertemu dengan proses pembelajaran yang lebih terarah. Bagi Daeng Tika, seni pada akhirnya tidak hanya menjadi bidang pekerjaan, tetapi berkembang menjadi bagian dari pengabdian dan panggilan hidup.

Menapaki Panggung Internasional

Pada 1992, Daeng Tika mengikuti workshop seni lintas negara di beberapa negara Eropa. Pengalaman tersebut menjadi salah satu awal perjalanan internasionalnya sebagai pekerja seni.

Perjalanannya kemudian berlanjut ke Singapura pada 1995 dan Australia pada 1996. Pada 1999, ia mengikuti kegiatan seni di Afrika Selatan, khususnya di Johannesburg dan Cape Town.

Pada 2014, ia kembali melakukan perjalanan kesenian ke beberapa negara Eropa. Rangkaian pengalaman tersebut memperluas ruang perjumpaan budaya yang membentuk perjalanan profesionalnya.

Berkarya di Ruang Kebudayaan Nusantara

Pada 2017, Daeng Tika turut ambil bagian dalam Festival Keraton Nusantara di Bima, Festival Keraton se-Asia Tenggara di Bandung, serta Festival Yadnya Kasada di kawasan Tengger Bromo.

Pada 2019, ia turut serta dalam Festival Keraton di Cirebon. Pada periode 2019–2021, ia menjadi bagian dari Toraja International Festival selama tiga tahun berturut-turut.

Berbagai kegiatan tersebut mempertemukannya dengan tradisi dan latar kebudayaan masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia.

Forum Seni dan Kebudayaan

Pada 2021, Daeng Tika tercatat sebagai salah satu seniman yang hadir dalam kegiatan G20 di Bali. Setahun kemudian, pada 2022, ia menjadi peserta Indonesia Music Expo (IMEX) di Ubud, Bali.

Kehadiran dalam berbagai forum tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya dalam mempertemukan seni pertunjukan dengan ruang kebudayaan yang lebih luas.

Meneruskan Warisan Sanggar Siradjuddin Gowa

Salah satu bagian penting dalam perjalanan Daeng Tika adalah keberlanjutan Sanggar Siradjuddin Gowa, yang dibentuk oleh ayahnya, almarhum H. Siradjuddin Daeng Bantang.

Bersama saudara-saudaranya, Daeng Tika turut mengelola dan meneruskan keberadaan sanggar tersebut. Sanggar ini tidak hanya menjadi ruang aktivitas seni, tetapi juga bagian dari warisan keluarga dan kesinambungan pengabdian generasi sebelumnya.

Mengabdikan Diri bagi Budaya Taeng

Daeng Tika juga dikenal sebagai pecinta sejarah dan budaya, khususnya budaya Makassar. Ia aktif menelusuri, menggali, dan membagikan kembali nilai-nilai warisan leluhur kepada generasi muda.

Pada perkembangan berikutnya, ia dipercaya sebagai Ketua Lembaga Kampung Budaya Taeng, yang bergerak di bidang pelestarian kebudayaan yang ada di Desa Taeng, Kabupaten Gowa.

Peran tersebut memperluas kiprahnya dari seorang pekerja seni pertunjukan menjadi penggerak pelestarian budaya di tingkat masyarakat.

Empo Sipitangarri dan Pendidikan Budaya

Salah satu perhatian Daeng Tika dalam pelestarian budaya Taeng adalah Empo Sipitangarri. Tradisi tersebut dipahami sebagai kearifan lokal yang mengandung nilai dialog, nasihat, teguran, penghormatan, dan pembelajaran antargenerasi.

Dalam kehidupan masyarakat masa kini, nilai-nilai tersebut tetap memiliki arti. Tradisi dapat menjadi ruang untuk mempertemukan generasi yang lebih tua dan generasi muda, sekaligus menjadi sarana menyampaikan pengalaman dan nasihat secara bijaksana.

Daeng Tika juga melihat pentingnya memanfaatkan media baru untuk memperkenalkan tradisi kepada generasi muda, sehingga teknologi dapat menjadi jembatan bagi pewarisan budaya tanpa menghilangkan nilai dasarnya.

Dari Warisan Menuju Pengabdian

Jika perjalanan Daeng Tika dilihat secara utuh, terdapat kesinambungan antara keluarga, seni, perjalanan, dan pengabdian.

Ia menerima warisan seni dari keluarganya, memperdalamnya melalui pendidikan, kemudian memperoleh pengalaman dari berbagai ruang kebudayaan di dalam dan luar negeri. Pengalaman tersebut pada akhirnya kembali diarahkan kepada akar budaya yang membentuk dirinya: Gowa dan Makassar.

Perjalanannya dapat dipahami sebagai proses menerima warisan, mengenal keberagaman budaya, kemudian kembali untuk merawat dan meneruskannya.

Filosofi Kehidupan

“Temukan, kenali, dan lestarikan budayamu, karena budaya merupakan warisan yang tak ternilai harganya dari para leluhur kita.”

Filosofi tersebut mencerminkan tiga langkah sederhana: menemukan kembali warisan budaya, mengenali sejarah serta maknanya, dan melestarikannya agar tetap hidup bagi generasi berikutnya.

Penutup

Jamaluddin Sirasaputra Daeng Tika merupakan sosok yang perjalanan hidupnya tidak dapat dipisahkan dari seni dan kebudayaan. Lahir dari keluarga seniman, menempuh pendidikan seni, melakukan perjalanan kesenian ke berbagai negara, berpartisipasi dalam berbagai festival, serta kemudian mengabdikan pengalaman tersebut bagi pelestarian budaya di Gowa dan Taeng.

Perjalanan itu menjadi pengingat bahwa kebudayaan bukanlah sesuatu yang berhenti pada masa lalu. Ia dapat terus hidup selama ada orang yang bersedia mempelajari, memahami, menjalankan, dan mewariskannya.

Melalui seni pertunjukan, Sanggar Siradjuddin Gowa, Kampung Budaya Taeng, serta berbagai aktivitas pelestarian budaya, Daeng Tika mengambil bagian dalam menjaga kesinambungan tersebut.

Pada akhirnya, pesannya menjadi ajakan yang sederhana bagi setiap generasi: temukan budayamu, kenali maknanya, dan lestarikan untuk generasi berikutnya.

Keterangan Dokumentasi

Foto utama: Jamaluddin Sirasaputra Daeng Tika. Foto disediakan oleh pengguna untuk kebutuhan profil dan dokumentasi tokoh.

Garis Waktu Singkat

Tahun

Kiprah

1979

Lahir di Sungguminasa, Gowa, 23 Desember.

1992

Workshop seni lintas negara di beberapa negara Eropa.

1995

Kegiatan seni di Singapura.

1996

Kegiatan seni di Australia.

1999

Kegiatan seni di Johannesburg dan Cape Town, Afrika Selatan.

2014

Kembali mengikuti kegiatan seni di beberapa negara Eropa.

2017

Festival Keraton Nusantara, Festival Keraton se-Asia Tenggara, dan Festival Yadnya Kasada.

2019

Festival Keraton Cirebon.

2019–2021

Toraja International Festival.

2021

Hadir dalam kegiatan G20 di Bali.

2022

Indonesia Music Expo (IMEX), Ubud, Bali.

Saat ini

Mengelola Sanggar Siradjuddin Gowa bersama saudara dan memimpin Lembaga Kampung Budaya Taeng.

 

DI BALIK MAHKOTA SOMBAYYA

    Menelusuri Struktur Pemerintahan Kerajaan Gowa  di Masa Lampau    Oleh: Daeng Tika     Sebuah kerajaan tidak menjadi besar hanya k...