Kamis, 18 Maret 2021
Lambang Kabupaten GOWA
SUKU MAKASSAR
1. Rumah Adat Makassar
Rumah atau balla berbentuk segi empat dengan lima tiang penyangga ke arah belakang dan 5 tiang penyangga ke arah samping. Untuk rumah milik bangsawan yang biasanya lebih besar, jumlah tiang penyangganya berjumlah lima ke samping dan enam atau lebih ke arah belakang. Atap rumah adat Makassar berbentuk pelana, bersudut lancip dan menghadap ke bawah. Biasanya bahannya terdiri dari nipah, rumbia, bambu, alang-alang. ijuk atau sirap. Jaman sekarang bahan penutup atapnya sudah lebih modern tentu saja. Bagian depan dan belakang puncak atap rumah yang berbatasan dengan dinding dan berbentuk segitiga disebut timbaksela. Dari timbaksela ini bisa dikenali derajat kebangsawanan pemiliknya.
2. Pakaian Adat Makassar
Pakaian Adat Makassar adalah Implementasi dari perpaduan dari nilai SIRI sileo pangngali (Harga diri dan Kehormatan) yang melahirkan nilai Sipakatau (Saling Menghargai) dalam realitas empiris masyarakat etnis Makassar. banyak simbol-simbol makna yang melengkupinya dan pada umumnya diperkaya oleh assesoris aksesoris yang juga sarat akan makna. Misalnya Baju Bodo bahannya dari Sutra atau Katun, warna tradisi Merah, kamummu ungu, Hijau dan Hitam,Merah Jambu yang kemudian dalam perkem bangangnnya menjadi berbagai Warna. Pelengkap yang menyertainya Lipa Sab'be, Simboleng pele/patinra, Bangkara/Subang, Jima Jima,Pinang Goyang/Bunga Sibollo dan Sulepe.
3. Bahasa Makassar
Bahasa Makassar, juga disebut sebagai Basa Mangkasara' adalah bahasa yang dituturkan oleh suku Makassar, penduduk Sulawesi Selatan, Indonesia. Bahasa ini dimasukkan ke dalam suatu rumpun bahasa Makassar yang sendirinya merupakan bagian dari rumpun bahasa Sulawesi Selatan dalam cabang Melayu-Polinesia dari rumpun bahasa Austronesia.
Dikoreksi jikalau salah...
Paruntu' kana
1. Tena nalari tamparanga
ᨈᨙᨊ ᨊᨒᨑᨗ ᨈᨄᨑᨂ
Terjemah : “laut tidak akan lari”
Makna : tidak perlu tergesa-gesa dalam mengerjakan sesuatu, harus tenang namun mantap.
2. Teako nararangi allo mange jama-jamannu
ᨈᨙᨕᨀᨚ ᨊᨑᨑᨂᨗ ᨕᨒᨚ ᨆᨂᨙ ᨍᨆ ᨍᨆᨊᨘ
Terjemah : “janganlah kesiangan ke tempat kerja"
Makna : Orang yang bangun kesiangan akan tidak mendapatkan rezeki
3. Kamai jeknek ri lekok paccok
ᨀᨆᨕᨗ ᨍᨙᨊᨙ ᨑᨗ ᨒᨙᨀᨚ ᨄᨌᨚ
Terjemah : “bagaikan air di daun talas”
Makna : kedudukannya goyah.
4. Kualleangi tallanga na toalia
ᨀᨘᨕᨒᨙᨕᨂᨗ ᨈᨒᨂ ᨊ ᨈᨚᨕᨒᨗᨕ
Terjemah : “lebih baik tenggelam daripada surut kembali”
Makna : pantang mundur dari perjuangan sebelum mencapai cita-cita.
5. Kamai caccak naipika pallanga lompo
ᨀᨆᨕᨗ ᨌᨌ ᨊᨕᨗᨄᨗᨀ ᨄᨒᨂ ᨒᨚᨄᨚ
Terjemah : “bagaikan cecak yang terjepit balok besar”
Makna : seseorang yang tak dapat bergerak/berbuat apa-apa atau menyangkal semua tuduhan yang telah dipaparkan buktinya; orang yag tak mampu bicara karena ketakutan.
6. Uru-urunaji nasengge, senggei pole sengge tassikali-kalimami
ᨕᨘᨑᨘ ᨕᨘᨑᨘᨊᨍᨗ ᨊᨔᨙᨁᨙ ᨔᨙᨁᨙᨕᨗ ᨄᨚᨒᨙ ᨔᨙᨁᨙ ᨈᨔᨗᨀᨒᨗ ᨀᨒᨗᨆᨆᨗ
Terjemah : “hanya awalnya saja rajin, tapi lama kelamaan hanya sekali-sekali saja”
Makna : sindiran kepada orang yang cepat bosan dalam bekerja.
7. La nupassangkammaji kau onde-onde jama-jamanga
ᨒ ᨊᨘᨄᨔᨀᨆᨍᨗ ᨀᨕᨘ ᨕᨚᨉᨙ ᨕᨚᨉᨙ ᨍᨆ ᨍᨆᨂ
Terjemah : “engkau menyamakan kue onde-onde pekerjaan ini”
Makna : Sindiran kepada orang yag selalu menganggap remeh dan enteng suatu pekerjaan padahal pada akhirnya tidak ada yang selesai.
8. Olok-oloka lagi na niak tonja paccena
ᨕᨚᨒᨚ ᨕᨚᨒᨚᨀ ᨒᨁᨗ ᨊ ᨊᨗᨕ ᨈᨚᨍ ᨄᨌᨙᨊ
Terjemah : “sedangkan hewan punya rasa iba”
Makna : sindiran kepada orang yang tak punya rasa iba kepada sesama manusia, terutama kepada anak dan sanak saudara.
9. Lamung-lamungna taua najagai nalamung-lamunna niak tonja na tanajampangia
ᨒᨆᨘ ᨒᨆᨘᨊ ᨈᨕᨘᨕ ᨊᨍᨁᨕᨗ ᨊᨒᨆᨘ ᨒᨆᨘᨊ ᨊᨗᨕ ᨈᨚᨍ ᨊ ᨈᨊᨍᨄᨂᨗᨕ
Terjemah : “tanaman orang yang dipelihara, sedangkan tanamannya sendiri ditelantarkan”
Makna : orang yang menelantarkan anak dan keluarganya namun malah mengurusi anak dan keluarga orang lain.
10. Lalang dolangapi naerok ingak, basapi naerok appayung
ᨒᨒ ᨉᨚᨒᨂᨄᨗ ᨊᨕᨙᨑᨚ ᨕᨗᨂ ᨅᨔᨄᨗ ᨊᨕᨙᨑᨚ ᨕᨄᨐᨘ
Terjemah : “nanti ditengah pelayaran baru mau ingat (tobat), sudah basah baru mau mencari payung”
Makna : terlambat bertobat, terlambat berbuat kebajikan, sudah sekarat baru mau beriman.
11. Kamma tongi tau anngukirika ri jekneka
ᨀᨆ ᨈᨚᨂᨗ ᨈᨕᨘ ᨕᨂᨘᨀᨗᨑᨗᨀ ᨑᨗ ᨍᨙᨊᨙᨀ
Terjemah : “seperti orang menulis diatas air”
Makna : melakukan perbuatan yang tak bermanfaan lagi sia-sia; memberi nasihat kepada orang yang tak membutuhkannya.
12. Jekneka cinik ia tonja nanaik ia tonja nanaung
ᨍᨙᨊᨙᨀ ᨌᨗᨊᨗ ᨕᨗᨕ ᨈᨚᨍ ᨊᨊᨕᨗ ᨕᨗᨕ ᨈᨚᨍ ᨊᨊᨕᨘ
Terjemah : “lihatlah air, ada saatnya pasang, ada saatnya surut”
Makna : keadaan hidup yang silih berganti susah senang adalah bagian kehidupan yang harus diperhatikan.
13. Napiraknyuki pole bebena
ᨊᨄᨗᨑᨎᨘᨀᨗ ᨄᨚᨒᨙ ᨅᨙᨅᨙᨊ
Terjemah : “dia mencuci muka dengan air liurnya”
Makna : orang yang berusaha menutupi kesalahannya tapi malah semakin menambah malu dan memperbesar kesalahannya.
14. Tappukmi urak-urak kallonga appote-pote natanapinraya gauk-gaukna
ᨈᨄᨘᨆᨗ ᨕᨘᨑ ᨕᨘᨑ ᨀᨒᨚᨂ ᨕᨄᨚᨈᨙ ᨄᨚᨈᨙ ᨊᨈᨊᨄᨗᨑᨐ ᨁᨕᨘ ᨁᨕᨘᨊ
Terjemah : “sudah putus urat leher berteriak-teriak, tetapi tetap tak mengubah tingkah lakunya”
Makna : tidak mau menerima pelajaran atau nasihat.
15. Pammappakna ciduka pammokkolinna taranga
ᨄᨆᨄᨊ ᨌᨗᨉᨘᨀ ᨄᨆᨚᨀᨚᨒᨗᨊ ᨈᨑᨂ
Terjemah : “pemotongnya yang runcing, penumpulnya yang tajam”
Makna : memberi kebebasan seluas-luasnya kepada seseorang dalam hal tertentu.
16. I lalangi basa i lalangi tongi kalotorok
ᨕᨗ ᨒᨒᨂᨗ ᨅᨔ ᨕᨗ ᨒᨒᨂᨗ ᨈᨚᨂᨗ ᨀᨒᨚᨈᨚᨑᨚ
Terjemah : “didalam basah, didalam pula kering”
Makna : rajin dan giat bekerja, tidak mengenal lelah.
17. Panne alle cinik ri pamantanganna biasa tonji antu sigentok-gentok
ᨄᨊᨙ ᨕᨒᨙ ᨌᨗᨊᨗ ᨑᨗ ᨄᨆᨈᨂᨊ ᨅᨗᨕᨔ ᨈᨚᨍᨗ ᨕᨈᨘ ᨔᨗᨁᨙᨈᨚ ᨁᨙᨈᨚ
Terjemah : “perhatikanlah piring di tempatnya sering pula berbenturan”
Makna : bagaimanapun rukunnya sebuah pasangan suami istri, suatu waktu akan muncul juga perselisihan sebagai fase hidup.
18. La tommo akjekneka basa
ᨒ ᨈᨚᨆᨚ ᨕᨍᨙᨊᨙᨀ ᨅᨔ
Terjemah : “hanya orang yang mandi saja yang basah”
Makna : jangan melibatkan orang lain yang tak berkepentingan atau tak tahu menahu persoalan yang kita hadapi.
19. Sipaccinikang lomo-lomo tasipaccinikang sukkarak
ᨔᨗᨄᨌᨗᨊᨗᨀ ᨒᨚᨆᨚ ᨒᨚᨆᨚ ᨈᨔᨗᨄᨌᨗᨊᨗᨀ ᨔᨘᨀᨑ
Terjemah : “saling memperlihatkan kemudahan dan tidak saling membawa kesulitan”
Makna : saling membantu dalam mencapai kemajuan, saling mempermudah urusan dan tidak saling menghalangi.
20. Angulummi naung batu lompoa nanggulung naik batu-batu cakdia
ᨕᨂᨘᨒᨘᨆᨗ ᨊᨕᨘ ᨅᨈᨘ ᨒᨚᨄᨚᨕ ᨊᨁᨘᨒᨘ ᨊᨕᨗ ᨅᨈᨘ ᨅᨈᨘ ᨌᨉᨗᨕ
Terjemah : “batu besar sudah bergulir kebawah, sedangkan batu kecil bergulir keatas”
Makna : orang-orang berpangkat dan berpengaruh telah kehilangan wibawa dan pengaruhnya, sementara orang kecil (karena suatu hal) muncul ke permukaan.
21. Sangkontu sanrapang tongi miong tukguruka anakna
ᨔᨀᨚᨈᨘ ᨔᨑᨄ ᨈᨚᨂᨗ ᨆᨗᨕᨚ ᨈᨘᨁᨘᨑᨘᨀ ᨕᨊᨊ
Terjemah : “bagaikan kucing yang jatuh anaknya”
Makna : orang yang kebingungan didalam menghadapi persoalan, tidak tahu harus berbuat bagaimana.
22. Tau amminawang ri arusuk bannyang, kerema e arusuka kere tongi mae
ᨈᨕᨘ ᨕᨆᨗᨊᨓ ᨑᨗ ᨕᨑᨘᨔᨘ ᨅᨎ ᨀᨙᨑᨙᨆ ᨕᨙ ᨕᨑᨘᨔᨘᨀ ᨀᨙᨑᨙ ᨈᨚᨂᨗ ᨆᨕᨙ
Terjemah : “orang yang ikut pada arus deras, kemana arus mengalir kesitu pun ia ikut”
Makna : dikatakan pada orang yang tak berpendirian teguh, hanya hanyut dan mengikuti arus yang ada.
23. Tau akrasa malaekak
ᨈᨕᨘ ᨕᨑᨔ ᨆᨒᨕᨙᨀ
Terjemah : “orang berbau malaikat”
Makna : dikatakan kepada orang yang memakai wangi-wangian.
24. Kamai jeknek ri lekok paccok
ᨀᨆᨕᨗ ᨍᨙᨊᨙ ᨑᨗ ᨒᨙᨀᨚ ᨄᨌᨚ
Terjemah : “bagaikan air di daun talas”
Makna : kedudukannya goyah.
25. Jangan lekleng anrikbak tannga banngi
ᨍᨂ ᨒᨙᨒᨙ ᨕᨑᨗᨅ ᨈᨂ ᨅᨂᨗ
Terjemah : “ayam hitam terbang tengah malam”
Makna : masalah/perkara yang tidak jelas dan tak dapat didukung dengan bukti sedikitpun.
26. Ammotereki bosia naik pole ri langika
ᨕᨆᨚᨈᨙᨑᨙᨀᨗ ᨅᨚᨔᨗᨕ ᨊᨕᨗ ᨄᨚᨒᨙ ᨑᨗ ᨒᨂᨗᨀ
Terjemah : “hujan kembali lagi ke langit”
Makna : keadaan sudah berbalik, orang kaya meminta kepada orang miskin; orang pintar meminta nasihat pada orang bodoh.
27. Sangkamma tongi darek nipeppeka
ᨔᨀᨆ ᨈᨚᨂᨗ ᨉᨑᨙ ᨊᨗᨄᨙᨄᨙᨀ
Terjemah : “seperti kera yang habis dipukul”
Makna : bungkam, diam tidak mau bicara.
28. Golla pokokna, kaluku tanngana, paria cappakna
ᨁᨚᨒ ᨄᨚᨀᨚᨊ ᨀᨒᨘᨀᨘ ᨈᨂᨊ ᨄᨑᨗᨕ ᨌᨄᨊ
Terjemah : “Gula awalnya, kelapa pertengahannya, peria ujungnya”
Makna : pergaulan yang mulanya sangat erat, namun lama kelamaan jadi renggang dan akhirnya bermusuhan.
29. Kamma tongi jabirik lekbak sissilia
ᨀᨆ ᨈᨚᨂᨗ ᨍᨅᨗᨑᨗ ᨒᨙᨅ ᨔᨗᨔᨗᨒᨗᨕ
Terjemah : “bagaikan ikan mujair yang disisiki”
Makna : dikatakan kepada orang yang pakaiannya acak-acakan, tidak tahu merawat diri.
30. Tau pakbambangan cerak
ᨈᨕᨘ ᨄᨅᨅᨂ ᨌᨙᨑ
Terjemah : “Orang yang panas darah”
Makna : pemarah, orang yang mudah marah dalam hal yang tidak wajar.
31. Sangkontu sanrapang tongi darek nisarea bunga
ᨔᨀᨚᨈᨘ ᨔᨑᨄ ᨈᨚᨂᨗ ᨉᨑᨙ ᨊᨗᨔᨑᨙᨕ ᨅᨘᨂ
Terjemah : “seperti monyet yang dihadiahi bunga”
Makna : (Sind.) orang yang tak tahu menghargai barang yang bagus/mahal, orang yang tak menghargai jasa baik orang lain kepadanya.
32. Sangkamma tongi jangang-jangang jakbaka
ᨔᨀᨆ ᨈᨚᨂᨗ ᨍᨂ ᨍᨂ ᨍᨅᨀ
Terjemah : “bagai burung didalam sangkar”
Makna : seseorang yang selalu merasa terbelenggu dengan keadaan, terus gelisah dan tidak tentram terhadap apa yang diterimanya.
33. Kontu bosi tukguruk naung ri kassika
ᨀᨚᨈᨘ ᨅᨚᨔᨗ ᨈᨘᨁᨘᨑᨘ ᨊᨕᨘ ᨑᨗ ᨀᨔᨗᨀ
Terjemah : “bagai hujan yang turun menimpa pasir”
Makna : berbuat baik kepada orang yang tak tahu balas budi; menasihati orang yang tak memerlukan nasihat seperti itu.
34. Lekbak lokokmi atingku, lekbak panrakmi nyawaku
ᨒᨙᨅ ᨒᨚᨀᨚᨆᨗ ᨕᨈᨗᨀᨘ ᨒᨙᨅ ᨄᨑᨆᨗ ᨎᨓᨀᨘ
Terjemah : “hatiku telah luka, perasaanku telah remuk”
Makna : sakit hati yang tak mungkin disembuhkan, kekecewaan yang sangat mendalam.
35. Kammai anging ammirik nyawana
ᨀᨆᨕᨗ ᨕᨂᨗ ᨕᨆᨗᨑᨗ ᨎᨓᨊ
Terjemah : “bagaikan angin yang berhembus hatinya”
Makna : orang yang selalu berubah-ubah sifat dan wataknya, kadang baik, kadang tidak baik.
36. Kontui jeknek simata massolonna
ᨀᨚᨈᨘᨕᨗ ᨍᨙᨊᨙ ᨔᨗᨆᨈ ᨆᨔᨚᨒᨚᨊ
Terjemah : “bagaikan air yang selalu mengalir”
Makna : dikatakan pada orang yang selalu menolong orang lain yang sedang kesulitan.
37. Kalenna attarattuk na taua napiani
ᨀᨒᨙᨊ ᨕᨈᨑᨈᨘ ᨊ ᨈᨕᨘᨕ ᨊᨄᨗᨕᨊᨗ
Terjemah : “dia yang kentut, orang lain yang dituduh”
Makna : dikatakan kepada orang yang melakukan kejahatan, namun menuduh orang lain dan tidak berani bertanggungjawab.
38. Tena annuk tena garese
ᨈᨙᨊ ᨕᨊᨘ ᨈᨙᨊ ᨁᨑᨙᨔᨙ
Terjemah : “tidak ada suara”
Makna : dikatakan pada seseorang yang melakukan suatu kegiatan dengan tiba-tiba tanpa memberitahu, terutama kepada keluarga dekat.
39. Takkulleai nitakgalak taun-taunna
ᨈᨀᨘᨒᨙᨕᨕᨗ ᨊᨗᨈᨁᨒ ᨈᨕᨘ ᨈᨕᨘᨊ
Terjemah : “tidak dapat ditangkap bayangannya”
Makna : dikatakan kepada orang yang pandai mencari alasan, pandai bicara, namun kata-katanya belum tentu benar.
40. Punna tena pangaliknu anngirang-inrangko panngalik na niak nupake-pake
ᨄᨘᨊ ᨈᨙᨊ ᨄᨂᨒᨗᨊᨘ ᨕᨂᨗᨑ ᨕᨗᨑᨀᨚ ᨄᨂᨒᨗ ᨊ ᨊᨗᨕ ᨊᨘᨄᨀᨙ ᨄᨀᨙ
Terjemah : “jika kau tak memiliki rasa malu, pinjamlah supaya ada yang kau manfaatkan”
Makna : dikatakan kepada orang yang tak mau membela/mempertahankan kehormatan diri atau keluarganya dari gangguan orag lain.
41. Sangkamma tau tena niassengi passolongang jeknekna
ᨔᨀᨆ ᨈᨕᨘ ᨈᨙᨊ ᨊᨗᨕᨔᨙᨂᨗ ᨄᨔᨚᨒᨚᨂ ᨍᨙᨊᨙᨊ
Terjemah : “seperti orang yang tidak diketahui aliran airnya”
Makna : (sind.) orang yang bertingkah seperti orang baik-baik padahal memiliki rencana jahat; orang rendahan yang bertingkah seperti kalangan atas.
42. Niak tonja antu paccena punna pacce naekbak lading
ᨊᨗᨕ ᨈᨚᨍ ᨕᨈᨘ ᨄᨌᨙᨊ ᨄᨘᨊ ᨄᨌᨙ ᨊᨕᨙᨅ ᨒᨉᨗ
Terjemah : “ada juga pedihnya, tetapi pedih karena teriris pisau”
Makna : dikatakan kepada orang yang tak mempunyai rasa belas kasihan terhadap penderitaan atau musibah yang menimpa orang lain.
43. Takkulleai nitakgalak taun-taunna
ᨈᨀᨘᨒᨙᨕᨕᨗ ᨊᨗᨈᨁᨒ ᨈᨕᨘ-ᨈᨕᨘᨊ
Terjemah : “tidak dapat ditangkap bayangannya”
Makna : dikatakan kepada orang yang pandai mencari alasan, pandai bicara, namun kata-katanya belum tentu benar.
44. Bajik birittana tasambajik rupanna gauka
ᨅᨍᨗ ᨅᨗᨑᨗᨈᨊ ᨈᨔᨅᨍᨗ ᨑᨘᨄᨊ ᨁᨕᨘᨀ
Terjemah : “indah berita tapi tidak seindah buktinya”
Makna : kadang berita yang orang katakan telah ditambah-tambah dari kenyataan yang sebenarnya.
45. Namanna antu kaluwaraya punna nionjok anngokkok tonji
ᨊᨆᨊ ᨕᨈᨘ ᨀᨒᨘᨓᨑᨐ ᨄᨘᨊ ᨊᨗᨕᨚᨍᨚ ᨕᨂᨚᨀᨚ ᨈᨚᨍᨗ
Terjemah : “semut saja kalau diinjak pasti menggigit”
Makna : serendah-rendahnya orang, apabila terlalu dihina pasti melawan juga.
46. Tau mallak ri taung-taunna
ᨈᨕᨘ ᨆᨒ ᨑᨗ ᨈᨕᨘ ᨈᨕᨘᨊ
Terjemah : “orang yang takut kepada bayangannya”
Makna : hal-hal yang dapat memperburuk situasi atau dapat membuat kemarahan memuncak.
47. Taenamo nassengangi kalenna, alloa naparek banngi, banngia naparek allo
ᨈᨕᨙᨊᨆᨚ ᨊᨔᨙᨂᨂᨗ ᨀᨒᨙᨊ ᨕᨒᨚᨕ ᨊᨄᨑᨙ ᨅᨂᨗ ᨅᨂᨗᨕ ᨊᨄᨑᨙ ᨕᨒᨚ
Terjemah : “sudah tidak tahu lagi dirinya, siang dianggapnya malam, malam dijadikannya siang”
Makna : dikatakan kepada orang yang sibuk atau giat bekerja tanpa memperhatikan istirahat dan kemampuan fisiknya.
48. Kammai batu panggaluguna kuakluk naung
ᨀᨆᨕᨗ ᨅᨈᨘ ᨄᨁᨒᨘᨁᨘᨊ ᨀᨘᨕᨒᨘ ᨊᨕᨘ
Terjemah : “bagai batu rasanya kutelan turun”
Makna : menerima musibah dengan sabar walaupun terasa sangat menyakitkan.
49. Ranrang tappauk kusambungi, sombalak kekkek kutampeng ri makminasaku mannyombali mateknea
ᨑᨑ ᨈᨄᨕᨘ ᨀᨘᨔᨅᨘᨂᨗ ᨔᨚᨅᨒ ᨀᨙᨀᨙ ᨀᨘᨈᨄᨙ ᨑᨗ ᨆᨆᨗᨊᨔᨀᨘ ᨆᨎᨚᨅᨒᨗ ᨆᨈᨙᨊᨙᨕ
Terjemah : “tali yang putus ku sambung, layar yang robek kutambal karena ku ingin melayari kebahagiaan”
Makna : teguh dalam pendirian dan tegar dalam cita-cita guna mewujudkan kebahagiaan dan ketenangan hidup.
50. Appikru naiki ri langika
ᨕᨄᨗᨑᨘ ᨊᨕᨗᨀᨗ ᨑᨗ ᨒᨂᨗᨀ
Terjemah : “meludah keatas langit”
Makna : ingin mencelakakan orang yang di atas (penguasa) namun yang hancur adalah dirinya sendiri; ingin melemparkan kesalahannya kepada orang lain namun malah dirinya sendiri yang bertambah celaka.
Kerajaan Gowa
SEJARAH SULAWESI : Ternyata Kerajaan Ini Jauh Lebih Besar Daripada Kerajaan Majapahit Dan Sriwijaya
Sejak kita duduk dibangku Sekolah dasar dan mulai mengenal pelajaran sejarah, perlahan-lahan kita mulai mengerti bahwa Bangsa Indonesia dulunya terdiri dari berbagai Kerajaan dan diantara Kerajaan yang pernah ada di Nusantara ada 2 Kerajaan yang paling Beken yaitu, Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit. menurut buku sejarah yang selalu kita baca, hanya 2 kerajaan ini yang paling besar di antara kerajaan-kerajaan yang pernah ada di wilayah indonesia. hingga pada suatu ketika, tepatnya ketika kita duduk dibangku SMA, kita lagi-lagi menemukan teori ini, Yaitu 2 Kerajaan terbesar yang pernah ada di Nusantara (Sriwijaya dan Majapahit), pada saat itu kita mungkin menayakan kepada Guru sejarah mengenai kebenaran sejarah ini, Mengapa hanya Sriwijaya dan Majapahit yang ditulis dalam buku-buku sejarah sebagai Kerajaan Besar, bagaimana dengan Kerajaan lain yang ada di Nusantara, Kerajaan Gowa misalnya, mengapa dalam buku sejarah, Kerajaan Gowa-Tallo yang kadang-kadang ditulis sebagai Kerajaan Makassar hanya dimuat ala kadarnya saja, mengapa expos tentang kerajaan ini sangat minim, padahal jika kita ingin berbicara Fakta sejarah dengan mengedepankan nilai-nilai ilmiah, maka bisa dipastikan Kerajaan Gowa-Tallo adalah salah satu Kerajaan Terbesar yang pernah ada di Nusantara.
Berikut saya paparkan sedikit hal dari Kerajaan Gowa :
1. Mahkota Raja Gowa yang bernama Salokoa salokoa, atau mahkota Raja, memiliki berat 1768 gram, terbuat dari emas murni, dan ditaburi 250 berlian, Mahkota ini berasal dari Raja Gowa Pertama Tumanurung Baineyya ri Tamalate pada Abad ke 13 Masehi.
2. Ponto Janga-Jangayya ponto janga jangaya (Terbuat dari emas murni yang berat seluruhnya 985,5 gram, bentuknya seperti Naga yang melingkar sebanyak 4 buah. Dinamai “Mallimpuang” yang berkepala naga satu dan “Tunipalloang” yang berkepala naga dua, benda ini merupakan benda “Gaukang” {kebesaran Raja} di Gowa dan dipakai pada pergelangan tangan, Benda ini berasal dari Tumanurunga).
3. Tobo Kaluku tobo kaluku atau rante manila dengan berat 270 gram.
4. Kolara kolara (kalung kebesaran yang terbuat dari emas murni seberat 2.182 gram).
5. Mata Uang Kerajaan Gowa-Tallo Disaat bangsa lain masih menggunakan sistem barter sebagai alat tukarnya, kerajaan Gowa-Tallo telah memiliki alat tukar yang sah di dalam wilayah kekuasaannya yang diberi nama Jingara' dan Kupa. Jingara' adalah mata Uang Kerajaan Gowa-Tallo yang terbuat dari emas Murni dengan ukuran diamater 19.49mm; tebal 1.50 mm dan berat 2.47 gram. berbeda dengan Jingara, Mata Uang kerajaan Gowa-Tallo lainnya yang bernama Kupa hanya terbuat dari campuran Timah dan Tembaga. hal ini adalah salah satu bukti tingginya peradaban Kerajaan Gowa-Tallo. pada sisi Uang Jingara' tertera tulisan berhuruf Arab, terbaca KHALIFA ALLAH SULTAN AMIR dan pada sisi yang lain tertera tulisan yang belafaskan SULTAN HASANUDDIN, Raja Gowa ke 16 yang sangat terkenal dengan Kegigihannya melawan Rongrongan VOC Belanda bersama sekutunya selama kurang lebih 10 Tahun (1660-1669).
6. Meriam anak Makassar Dalam buku yang ditulis Dr. K.G. Crucq dan J.W. Vogel, menjelaskan bahwa meriam “Anak Makassar” adalah meriam yang terbesar yang pernah ada dan dimiliki oleh bangsa Indonesia dalam bidang pertahanan. Panjang diameter lobang mulutnya 41,5 cm, sehingga orang dengan mudah dapat masuk ke dalamnya. Menurut Dr. K.G. Crucq yang banyak melakukan penelitian tentang meriam-meriam yang ada di Indonesia, bahwa meriam “Anak Makassar” Milik Kerajaan Gowa-Tallo yang ada di Benteng Somba Opu itu lebih besar dari pada meriam “Pancawura” atau “Kyai Sapujagad” yang ada di Keraton Surakarta. Jika dibandingkan dengan meriam-meriam kramat lainnya, seperti misalnya meriam “Ki Amuk” yang ada di banten, meriam “Anak Makassar” lebih besar ukuran atau kalibernya. J.W. Vogel dalam tulisannya yang berjudul “Oost-Indianische Reisbesch-reibung” menggambarkan bahwa mulut meriam “Anak Makassar “ milik Kerajaan Gowa itu sedemikan besarnya “dass der grosste mensch gar fuglich hinein kriechten und sich verbergenkan” (sehingga orang yang paling besar sekalipun dengan mudah dapat merayap ke dalamnya dan bersembunyi di situ). Berat meriam “Anak Makassar” ini seluruhnya memiliki bobot 9.500 kg. atau 9,5 ton. Panjang meriam keramat ini enam meter. Dengan kaliber 41,5 cm.
7. Tiga belas Benteng Peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo -Benteng Somba Opu, Benteng Ujung Pandang di bangun pada Tahun 1545 (setelah perjanjian Bungayya diambil alih oleh belanda dan namanya diganti menjadi benteng Fort Roterdam), Benteng Tallo, Benteng Ujung Tanah, Benteng Panakukang, Benteng Kale Gowa, Benteng ana' Gowa, Benteng Galesong, Benteng sanrabone, Benteng Barombong, Banteng Mariso, Benteng Garassi, Benteng Baroboso' Menurut Saya tidak ada kerajaan di Nusantara yang memiliki Benteng sebanyak Kerajaan Gowa-Tallo.
8. Masa Ke Emasan Kebesaran imperium Gowa-Tallo sebagai penguasa lautan mulai dirintis sejak abad ke 15 pada masa pemerintahan KaraEng Same' ri Liukang (Karaeng Samarluka), beliau adalah Raja Tallo ke2 yang menyerang Malaka dan berhasil menduduki kerajaan Samudera Pasai bersama 200 Kapal Perangnya.
Banyak bukti yang menunjukkan kepiawaian Suku Makassar mengarungi dan menaklukkan laut hanya dengan perahu layar. Salah satu bukti tertulis adalah catatan Tome Pires yang dianggap sebagai sumber Barat tertulis yang paling tua. Dalam laporannya Pires mengemukakan: “Orang-orang Makassar telah berdagang sampai ke Malaka, Jawa, Borneo, negeri Siam dan juga semua tempat yang terdapat antara Pahang dan Siam”.
Pieter Van Dam (seorang penulis VOC pada abad ke-XVII) menguraikan dalam bukunya, "Beschrijving van de Oost-Indische Compagnie 2de Boek 5de Capittel" (Uraian Kompeni Hindia Timur Buku ke2 Bab ke5), bahwa : "Kerajaan Makassar, terletak di pulau besar Celebes, sebelum ini sangatlah termahsyur. Pertama karena perniagaannya, selain dari pada itu karena keunggulannya berperang yang sangat hebat". Pada bagian lain bukunya tersebut, ia mengatakan : " orang-orang arif yang mengenal keadaan Makassar, menganggap adalah suatu yang mustahil, pun orang-orang Muslim dan kafir dimana saja di kawasan Timur tidak dapat percaya, bahwa orang-orang Belanda Akan dapat mengalahkan Makassar, bahkan dunia akan kiamat sebelum Makassar terkalahkan. Oleh karena orang Makassar terkenal sebagai yang paling berani, paling unggul berperang di seluruh Hindia, suatu bangsa tak ada taranya dan sanggup mengerahkan lasykar ratusan ribu jumlahnya, yang bersenjatakan meriam dan bedil berpeluru berbisa serta dapat menembak sekeping uang kelip dengan tepat pada jarak 30 langkah." (terjemahan Sejarawan La Side' Daeng Tapala, Gowa , Kekuatan Maritim Kawasan Timur Nusantara Abad ke-16 dan 17, Bingkisan Budaya Sulawesi Selatan, YKSST-1977).
Maka tak heran jika wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa pada pertengahan abad XVII dapat meliputi sebagian besar kepulauan Nusantara bagian Timur, seluruh Sulawesi, Sula, Dobo, Buru-Kepulauan Aru Maluku di sebelah timur, termasuk Sangir, Talaud, Pegu, Mindanao di bagian utara. Bahkan sampai Marege-Australia Utara, Timor, Sumba, Flores, Sumbawa, Lombok-Nusa Tenggara di sebelah selatan, serta Kutai dan Berau di Kalimantan Timur sebelah Barat. Dalam kurun waktu tahun 1641, Kerajaan Gowa-Tallo adalah merupakan suatu Imperium Terbesar dikawasan Nusantara yang daerah kekuasaannya meliputi kawasan darat dan laut yang luasnya lebih dari separuh kawasan Indonesia pada masa ini. Tidak kurang dari 70 Kerajaan besar dan kecil yang mengaku berlindung dibawah naungan "Laklang SipuwEa" (Payung Kebesaran Kerajaan Gowa).
Sejarah mencatat, Kerajaan Makassar (Gowa-Tallo) beberapa kali mengirimkan armada lautnya untuk menaklukkan sejumlah wilayah di Nusantara. untuk memperkuat pengaruhnya di Nusantara, Sultan Alauddin Raja Gowa ke 14 mengirim pasukan ke beberapa daerah yang dianggap strategis bagi pengawasan pelayaran niaga ke Maluku, salah satunya adalah ke Pulau Sumbawa dibawah pimpinan Karaeng Maroanging.
Karaeng Maroanging mungkin tidak sepopuler Karaeng Galesong dan Karaeng Bontomarannu sang Panglima Angkatan Perang Kerajaan Gowa yang meninggalkan Makassar menuju Pulau Jawa. Namun tidak demikian jika kita berbicara akan pencapaiannya selama menjabat sebagai Panglima Angkatan Perang. Berkat keberaniannya, akhirnya pulau Sumbawa dapat diduduki pada tahun 1618.
Satu tahun kemudian tepatnya 1619 Sultan Alauddin meresmikan penaklukan tersebut, wilayah kekuasaan Kerajaan Makassar meluas sampai ke Bima, Tambora, Dompu dan Sanggar di pulau Sumbawa. Bima adalah daerah pertama yang menjadi daerah taklukan Kerajaan Gowa (1616) yang pada masa itu Ekspedisi penaklukannya dipimpin oleh Lo'mo Mandalle sebagai Panglima Angkatan Perang Kerajaan Gowa. (Catatan Kerajaan Gowa-Tallo) Dalam tahun 1632 orang Bima mengadakan perlawanan/pemberontakan terhadap Kerajaan Gowa. Maka pada tanggal 25 November 1632 setelah kedatangannya dari Tanah Toraja, Sultan Alauddin mengirim sebuah armada militer ke Bima dibawah pimpinan Karaeng ri Bura’ne untuk memadamkan huru-hara tersebut.
Setelah berhasil menyelesaikan tugasnya, armada perang itu kembali ke Makassar pada tanggal 7 April 1633.(Catatan Kerajaan Gowa-Tallo) Tanggal 29 Januari 1642, Kerajaan Makassar kembali mengerahkan armada perang Kerajaan Gowa ke Ambon (Hitu) untuk membantu rakyat setempat melawan VOC. Tahun 1634 – 1643, Rakyat Hitu (Ambon) di Maluku Tengah di bawah pimpinan Kakiali mengadakan perlawanan terhadap VOC. Peristiwa yang dikenal dengan Perang Hitu Pertama ini terjadi akibat politik monopoli perdagangan dan “Hongi Tochten” VOC yang sangat menyengsarakan rakyat di kerajaan Hitu (Tanah Hitu).
I Baliung dan I Daeng Batu, keduanya adalah panglima perang kerajaan yang memimpin armada perang Kerajaan Gowa ke Ambon. (Catatan Kerajaan Gowa-Tallo) Tahun 1650, para bangsawan Ternate mengobarkan perlawanan di Ternate dan Ambon, pemberontakan ini dipicu sikap Sultan Mandarsyah yang terlampau akrab dan dianggap cenderung menuruti kemauan Belanda. Para bangsawan berkomplot untuk menurunkan Mandarsyah. Tiga di antara pemberontak yang utama adalah trio pangeran: Saidi, Majira dan Kalumata.
Majira sebagai salah satu pemimpin tertinggi pemberontakan menghadap Raja Gowa untuk minta bala bantuan pasukan melawan Sultan Ternate dan sekutunya (Belanda). Raja Gowa memberi bantuan sebanyak 30 perahu lengkap persenjataan, dan mengutus Daeng ri Bulekang untuk memimpin pasukan demi membantu rakyat Ambon dari penindasan Belanda tersebut.
Beralih ke daerah lain, Hingga kini Suku Aborigin sebagai suku asli Australia masih menggunakan tidak kurang dari 500 Kosa Kata Bahasa Makassar. Selain itu di dalam Goa Adat mereka yang terletak di arhem sangat banyak Lukisan tentang Eksistensi Makassar di Benua Australia, menurut saya ini salah satu bukti bahwa Pengaruh Kerajaan Gowa-Tallo (Makassar) sangat Kuat di Australia.
9. Armada Laut Kebesaran armada laut Kerajaan Gowa dahulu didukung oleh armada perahu yang besar dan tangguh. Selain jenis perahu Phinisi yang dikenal sekarang ini, Kerajaan Gowa pernah memiliki ribuan perahu jenis "Galle" yang mempunyai desain cantik menawan yang dikagumi pelaut-pelaut Eropa, seperti I Galle I Nyannyik Sangguk yang pernah ditumpangi oleh Baginda Sultan Muhammad Said (Sultan Malikussaid) dalam pelayarannya ke Walinrang dan Negeri Bolong di Tanah Toraja.
Catatan Antonio de Payva seorang pelaut Portugis yang berpapasan dengan Iring-iringan Sultan MAlikussaid mencatat bahwa tidak Kurang dari 1182 Kapal Perang yang menyertai pelayaran beliau ke daerah Maje'ne'. Perahu Galle Kerajaan Gowa memiliki konstruksi bertingkat dengan panjang mencapai 40 meter dan lebar 6 meter. Tiang layar besar dilengkapi pendayung 200 hingga 400 orang.
Setiap perahu Galle diberi nama tersendiri. berikut beberapa nama Perahu Galle yang masih bisa terlacak dalam serpihan sejarah :
I Galle Dondona Ralle Cappaga panjang 25 depa atau 35 meter. I Galle Nyannyik Sangguk dan I Galle Mangking Naiya, panjang 15 depa atau 27 meter. I Galle kalabiu, I Galle Galelangan, I Galle Barang Mamase, I Galle Siga, dan I Galle Uwanngang Lima perahu yang terakhir memiliki panjang masing-masing 13 depa atau sekitar 23 meter.
Di samping itu terdapat pula jenis-jenis perahu yang dibuat untuk kepentingan tertentu, seperti jenis Perahu Binta untuk penyergapan, Perahu Palari sebagai alat pengontrol wilayah kekuasaan di perairan dan pesisir pantai, Perahu Padewakang untuk kepentingan dagang, Perahu Banawa untuk mengangkut binatang ternak, Perahu Palimbang khusus angkutan penumpang antarpulau, Perahu Pajala bagi nelayan penangkap ikan, Perahu Birowang dan Perahu Bilolang untuk mengangkut penumpang jarak dekat.
10. Aksara lontara Aksara Lontara di ciptakan oleh Syahbandar merangkap Tumailalang/Menteri Dalam Negeri Kerajaan Gowa yang bernama Daeng Pamatte' di Tahun 1500an.
11. Astronomi Kerajaan Gowa-Tallo juga telah memiliki Nama-nama Bulan Yang di Gunakan Kerajaan Gowa-Tallo sebelum tahun 1520, Yaitu : - Naagai (Januari) - Palagunai (Februari) - Bisaakai (Maret) - Jettai (April) - Sarawanai (mei) - Pe'dawaranai (Juni) - Sujiwi (Juli) - Pacciekai (Agustus) - Pociyai (September) - Mangasierai (Oktober) -Mangase'tiwi (November) -Mangalompai (Desember) selain nama-nama bulan diatas, masyarakat Suku Makassar juga telah memiliki Kemampuan dalam membaca arah bintang gemintang secara Konkrit, hal ini disebabkan oleh profesi mereka yang sebagian besar dihabiskan pada aspek Maritim.
Dan yang paling membanggakan bahwa pada abad ke 17 Mangkubumi Kerajaan Gowa yang bernama I Mangadacina Daeng Sitaba Karaeng Pattingaloang telah memiliki Teropong Bintang yang berasal dari pemberian Galileo galilei, sebuah barang yang sangat langka dan Hanya dimiliki oleh beberapa orang saja di masanya.
Demikianlah sedikit Gambaran tentang Kerajaan Kembar Gowa-Tallo (Makassar). dan hal ini hanya sebagai upaya untuk Mencerdaskan kehidupan bangsa dan sebagai upaya untuk memperkenalkan Bahwa di daerah Kami Makassar (sulawesi) juga telah memiliki Sejarah yang besar dan peradaban yang tinggi, tetapi tidak pernah termuat dalam buku sejarah. terkadang saya berfikir apakah Karena Kerajaan Gowa-Tallo bercorak Islam sehingga Penulis-penulis yang bermashab Orientalisme enggan untuk mengungkap Fakta Sejarah ini.
sumber : berbagai kalangan
Menurut penuturan ini lah senjata yg paling ditakuti oleh belanda dr arah laut krn pelurunya dpt menengelamkan kapal" yg ada diserkitarnya wlaupun tdk kena langsung, jd bgt benteng sombaopu direbut oleh belanda mk meriam anak mangkasara yg jg dise but meriam subuhanallah langsung dihancurkan oleh belanda dn kroni"nya yg bangkainya tdk diketahui keberadaanya
DI BALIK MAHKOTA SOMBAYYA
Menelusuri Struktur Pemerintahan Kerajaan Gowa di Masa Lampau Oleh: Daeng Tika Sebuah kerajaan tidak menjadi besar hanya k...
-
Kisah Kampung Taeng Jejak yang Masih Tinggal Orang-orang tua di Kampung Taeng biasa bercerita bahwa kampung ini sudah ada sejak masa yan...
-
Menelusuri Struktur Pemerintahan Kerajaan Gowa di Masa Lampau Oleh: Daeng Tika Sebuah kerajaan tidak menjadi besar hanya k...
-
Raja Gowa ke 32 tahun 1826 - 1893 (66 tahun). Wafat 30 Januari 1893. I Kumala Krg Lembang Parang Sultan Abdul Kadir Muhammad Aidid Tumenan...
