KETIKA ADAT DIHAKIMI ATAS NAMA AGAMA
Lalu Islam datang, Dan sejarah mencatat bahwa Islam kemudian menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Gowa-Makassar. Tetapi pertanyaannya Apakah masyarakat Gowa harus terlebih dahulu menjadi bukan Makassar untuk menjadi Muslim? Tentu tidak. Mereka tetap menjadi orang Makassar. Bahasanya tetap hidup. Adatnya tetap berjalan. Kesenian tetap berkembang. Pakaian adat tetap dikenakan. Nilai siri’ dan pacce tetap menjadi bagian dari kehidupan sosial. Yang berubah adalah bagaimana nilai-nilai tersebut kemudian dipahami dalam kehidupan yang telah dipengaruhi oleh Islam. Di sinilah kita melihat sebuah pelajaran penting Islam tidak selalu datang dengan cara memutus akar. Ia dapat tumbuh dengan cara menyatu dengan tanah tempat ia ditanam.
Namun hari ini kita justru melihat gejala yang mengkhawatirkan. Sebagian orang mulai melihat kebudayaan seolah-olah sebagai sesuatu yang harus dicurigai. Adat dipertanyakan, Tradisi dicurigai, Kesenian dianggap tidak penting. Simbol budaya dianggap bertentangan dengan agama hanya karena tidak dipahami konteks sejarah dan maknanya. Yang lebih berbahaya adalah ketika orang mulai merasa bahwa menjadi religius berarti harus menjauh dari identitas kebudayaannya. Seolah - olah untuk menjadi Muslim yang baik, seseorang harus meninggalkan kemakassarannya. Seolah-olah memakai pakaian adat adalah persoalan iman. Seolah-olah menjaga bahasa daerah adalah kemunduran. Seolah-olah memainkan musik tradisional adalah sesuatu yang harus dicurigai. Seolah-olah adat dan agama harus berdiri di dua kubu. Ini bukan lagi persoalan agama. Ini persoalan cara membaca budaya.
Kita perlu belajar membedakan, Mana agama, Mana adat, Mana tradisi, Mana kebiasaan sosial, Mana simbol budaya, Mana ritual keagamaan. Sebab ketika semuanya dicampur menjadi satu, maka yang terjadi adalah kekacauan pemahaman, Contohnya sederhana, Ketika orang Makassar mengenakan passapu, apakah otomatis itu persoalan agama? Tidak.
Passapu adalah bagian dari identitas dan kebudayaan, Ketika orang mengenakan pakaian adat pada sebuah acara budaya, apakah ia sedang menjalankan ibadah? Tidak selalu. Ketika masyarakat mempertahankan bahasa Makassar, apakah itu berarti mereka sedang membuat agama baru? Tentu tidak.
Begitu pula ketika sebuah tradisi memiliki nilai sosial seperti menghormati orang tua, menjaga persaudaraan, membantu sesama, menjaga kehormatan, dan hidup dalam kebersamaan. Nilai-nilai tersebut dapat berdampingan dengan ajaran agama. Karena tidak semua yang diwariskan leluhur harus dibenturkan dengan agama. Dan tidak semua yang datang atas nama agama harus digunakan untuk menghapus kebudayaan.
Tetapi jangan pula kita terjebak pada romantisme budaya, Tidak semua warisan leluhur harus dipertahankan hanya karena disebut adat, Adat juga harus diuji oleh zaman. Jika ada tradisi yang merendahkan manusia, menimbulkan ketidakadilan, atau bertentangan dengan nilai kemanusiaan, maka tradisi itu layak dikritisi. Itulah kebudayaan yang hidup. Budaya bukan benda mati di museum. Budaya adalah sesuatu yang tumbuh, berubah, beradaptasi, dan diwariskan. Begitu pula agama, Agama tidak membutuhkan kebudayaan untuk kehilangan prinsipnya. Dan kebudayaan tidak membutuhkan agama untuk kehilangan identitasnya. Keduanya dapat berjalan bersama selama manusia mampu menempatkan keduanya pada tempatnya.
Yang harus kita khawatirkan justru ketika generasi muda Gowa mengenal budaya sendiri hanya dari foto, Mengenal passapu hanya dari internet. Mengenal bahasa Makassar hanya dari orang tua. Mengenal tari tradisional hanya ketika ada festival. Mengenal adat hanya ketika ada pesta. Mengenal sejarah Gowa hanya ketika ada peringatan hari jadi. Sementara kita sibuk memperdebatkan apakah budaya ini boleh atau tidak, budaya itu islami atau tidak, tradisi ini sesuai atau tidak sesuai. Akhirnya apa yang terjadi? Budayanya mati sebelum sempat dipahami. Dan ketika budaya mati, yang hilang bukan hanya pakaian atau tarian. Yang hilang adalah ingatan.
Bahasa, Simbol, Cerita, Filosofi. Cara masyarakat memandang kehidupan, Dan yang paling menyedihkan anak cucu kita kelak mungkin akan bertanya tentang budaya leluhurnya, tetapi kita tidak lagi mampu menjawabnya. Gowa memiliki sejarah panjang, Gowa pernah menjadi kekuatan besar di kawasan timur Nusantara. Gowa memiliki tradisi intelektual, pemerintahan, perdagangan, seni, dan kebudayaan yang kuat. Ketika Islam menjadi bagian penting dalam kehidupan kerajaan, sejarah tidak berhenti Kebudayaan tidak serta-merta lenyap. Justru terjadi proses panjang perjumpaan antara pangngadakkang dan nilai-nilai Islam. Karena masyarakat tidak hidup dalam ruang teori. Mereka hidup dalam keluarga, Di kampung, Di pasar, Di masjid, Di rumah, Di sawah, Di panggung kesenian, Di tengah masyarakat. Di sanalah agama dan budaya bertemu setiap hari.
Maka jika hari ini kita mengatakan bahwa agama harus melawan budaya, kita perlu bertanya kembali Budaya yang mana yang hendak dilawan? Dan Agama yang mana yang sedang kita bicarakan? Jangan-jangan yang sedang kita lawan bukan kemusyrikan, bukan ketidakadilan, bukan kebodohan, bukan kemiskinan, bukan kerusakan moral. Tetapi hanya simbol kebudayaan yang tidak kita pahami.
Siri’ na pacce juga harus dipahami secara jernih, Siri’ bukan sekadar harga diri, Pacce bukan sekadar rasa kasihan. Di dalam kehidupan masyarakat, keduanya mengandung tanggung jawab sosial, Siri’ mengajarkan kehormatan, Pacce mengajarkan kepedulian. Dan ketika nilai-nilai itu bertemu dengan ajaran Islam tentang akhlak, persaudaraan, keadilan, dan kepedulian terhadap sesama, maka yang terjadi tidak harus berupa benturan. Bisa terjadi pengayaan, Karena manusia Makassar tidak harus memilih menjadi Makassar atau menjadi Muslim, Ia dapat menjadi keduanya, Menjadi manusia yang beragama sekaligus berbudaya, Menjadi Muslim tanpa kehilangan bahasa ibunya, Menjadi religius tanpa membenci adatnya, Menjadi modern tanpa menertawakan leluhurnya, Menjadi terbuka tanpa kehilangan akar.
Maka sudah waktunya kita berhenti menggunakan agama sebagai palu untuk memukul segala sesuatu yang tidak kita mengerti. Dan berhenti pula menggunakan adat sebagai tameng untuk mempertahankan segala sesuatu yang sudah tidak relevan. Agama bukan palu, Adat bukan tameng. Keduanya membutuhkan manusia yang memiliki pengetahuan. Karena tanpa pengetahuan, agama bisa disalahgunakan untuk menghakimi. Dan tanpa pemahaman, budaya bisa dipertahankan secara membabi buta. Yang kita perlukan bukan manusia yang paling keras mengatakan “haram” atau “boleh”. Kita membutuhkan manusia yang mampu menjelaskan, mengapa sesuatu dilakukan, dari mana asalnya, apa maknanya, dan bagaimana kedudukannya dalam agama serta kebudayaan.
Itulah kedewasaan, Gowa tidak boleh kehilangan agamanya, Tetapi Gowa juga tidak boleh kehilangan kebudayaannya. Karena kehilangan agama berarti kehilangan salah satu fondasi spiritual masyarakat. Dan kehilangan budaya berarti kehilangan sebagian dari ingatan tentang siapa kita. Jangan sampai suatu hari nanti kita memiliki generasi yang hafal banyak hal dari luar, tetapi gagap ketika ditanya Apa bahasa leluhurmu? Apa makna siri’ na pacce? Apa itu pangngadakkang? Mengapa orang tua dahulu memakai passapu? Mengapa tradisi tertentu dilakukan? Apa filosofi di balik kesenianmu? Dari mana identitas Gowa-Makassar berasal? Jika semua pertanyaan itu tidak lagi mampu kita jawab, maka masalah kita bukan sekadar kehilangan budaya. Kita sedang kehilangan arah untuk mengenali diri sendiri.
Karena itu, mungkin sudah waktunya kita mengubah cara berpikir. Bukan “Agama atau budaya?” Tetapi “Bagaimana agama membimbing manusia tanpa membuatnya kehilangan akar budayanya?” Bukan “Adat atau agama?” Tetapi “Bagaimana adat yang baik dapat hidup berdampingan dengan nilai-nilai agama?” Bukan “Haruskah budaya lama dibuang?” Tetapi “Apa yang harus dipertahankan, apa yang harus diperbaiki, dan apa yang memang harus ditinggalkan?” Itulah pertanyaan yang lebih dewasa. Sebab leluhur bukan untuk disembah. Leluhur adalah untuk dipelajari, Adat bukan untuk dipertuhankan. Adat adalah untuk dipahami. Agama bukan untuk dijadikan senjata. Agama adalah jalan untuk membentuk manusia menjadi lebih baik. Dan budaya bukan untuk dijadikan alasan menolak perubahan. Budaya adalah akar yang membuat kita tahu dari mana kita berasal. Pohon yang tinggi tidak malu memiliki akar.
Demikian pula masyarakat Gowa. Kita boleh berjalan menuju masa depan. Kita boleh menjadi modern. Kita boleh menerima perubahan. Tetapi jangan sampai ketika kita sudah sampai jauh ke depan, kita menoleh ke belakang dan tidak lagi mengenali tanah tempat kita pernah berpijak. Sebab bangsa yang kehilangan akar, mungkin masih bisa berdiri. Tetapi ia tidak lagi tahu untuk apa ia tumbuh. Dan mungkin, inilah pertanyaan terbesar untuk Gowa hari ini Apakah kita sedang menjaga agama dan budaya atau justru sedang mempertentangkan keduanya karena kita sudah tidak lagi memahami sejarah pertemuan mereka.

Komentar
Posting Komentar