KAMPUNG TAENG
Kisah Kampung Taeng:
Jejak yang Masih Tinggal
Orang-orang tua di Kampung Taeng biasa bercerita
bahwa kampung ini sudah ada sejak masa yang sangat lama, sejak tanah Gowa masih
diperintah oleh para raja. Mereka tidak selalu menceritakan sejarah dengan
tahun dan angka. Sejarah Taeng lebih sering diwariskan lewat cerita. Dari mulut
orang tua kepada anak-anaknya, dari keluarga kepada keturunannya, dari mereka
yang pernah melihat kepada mereka yang ingin mengetahui.
Begitulah Taeng dikenang, Nama Taeng, menurut
cerita yang hidup di masyarakat, berasal dari sebuah pohon yang dahulu tumbuh
di wilayah ini. Pohon itu disebut “Poko'
Taeng”.
Konon, pohon tersebut begitu dikenal sehingga nama itu kemudian melekat pada
tempat di sekitarnya. Lambat laun, orang-orang menyebut wilayah ini sebagai
Taeng.
Mungkin pohonnya telah lama berubah atau tidak lagi
ditemukan seperti dahulu. Waktu memang selalu membawa perubahan. Namun, namanya
tetap tinggal. Taeng tetap menjadi Taeng, dan nama itu membawa serta ingatan
tentang masa ketika kampung ini masih dikelilingi oleh alam yang berbeda dengan
yang terlihat sekarang.
Kampung ini tumbuh tidak jauh dari Sungai
Jeneberang. Pada masa lalu, sungai bukan hanya tempat air mengalir menuju laut.
Sungai adalah jalan. Melalui sungai, orang-orang bergerak, membawa barang,
bertemu dengan orang dari tempat lain, dan menjalin hubungan dengan
wilayah-wilayah di sekitarnya.
Dari kawasan Taeng, hubungan itu mengarah pula ke
pusat-pusat penting Kerajaan Gowa, termasuk kawasan Benteng Somba Opu. Karena
itulah, Taeng tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Kampung ini menjadi
bagian dari kehidupan besar Kerajaan Gowa.
Di tempat inilah berbagai keterampilan tumbuh, Ada tangan-tangan yang
menenun benang menjadi kain, Ada
tangan-tangan yang memukul besi panas hingga berubah menjadi bilah, Ada pula orang-orang
yang menjalankan tugas dalam pemerintahan dan kehidupan keagamaan.
Taeng, dalam ingatan masyarakatnya, bukan hanya
sebuah tempat tinggal. Kampung ini adalah tempat orang bekerja, belajar,
memimpin, berlatih, dan mewariskan pengetahuan.
Kampung Para Penjaga Keterampilan
Pada masa ketika Kerajaan Gowa masih berdiri, setiap
keterampilan memiliki arti yang besar. Seorang yang mampu membuat sesuatu
dengan tangannya bukan sekadar seorang pekerja. Ia adalah penjaga pengetahuan. Di Kampung Taeng,
salah satu pengetahuan itu adalah menenun. Hingga sekarang, suara
alat tenun masih dapat ditemukan di kampung ini. Suara kayu yang bergerak,
benang yang ditarik dan disusun, serta tangan-tangan yang bekerja dengan sabar
menjadi pemandangan yang menghubungkan masa kini dengan masa lalu.
Menjadi penenun membutuhkan kesabaran, Sehelai kain tidak
lahir dalam waktu singkat. Benang harus dipersiapkan. Susunan harus
diperhatikan. Motif harus diingat. Tangan harus bergerak berulang-ulang.
Kesalahan kecil dapat mengubah susunan yang telah dikerjakan berjam-jam.
Di Taeng dikenal beberapa Cura', atau corak tenun,
yang menjadi bagian dari warisan masyarakat. Ada cura' caddi, cura' tangnga, dan
cura' la'ba'. Nama-nama itu bukan sekadar sebutan bagi pola pada kain.
Di dalamnya terdapat pengetahuan yang diwariskan dari para penenun terdahulu.
Dahulu, para perempuan dan keluarga penenun menjaga
keterampilan tersebut dengan cara yang sederhana: melihat, mencoba, mengulang,
lalu menguasainya. Tidak selalu ada buku untuk menjelaskan bagaimana sebuah
corak dibuat. Banyak pengetahuan tinggal di tangan dan ingatan.
Hari ini, waktu telah berubah. Penenun di Taeng menggunakan
Alat Tenun Bukan Mesin atau ATBM. Peralatan berubah, cara produksi menyesuaikan
keadaan, tetapi pekerjaan menenun masih bertahan. Di situlah salah satu
kekuatan Taeng. Ia
tidak sepenuhnya menolak perubahan, tetapi juga tidak ingin kehilangan dirinya. Benang-benang lama
masih dirangkai dengan tangan-tangan generasi sekarang.
Ketika Besi Masih Menyala
Selain tenun, Taeng juga pernah dikenal melalui
keterampilan menempa bilah pusaka. Tradisi itu melahirkan bilah yang dikenal
dengan nama De'de' Taeng. Membayangkan
masa itu, mungkin orang dapat membayangkan sebuah tempat penempaan ketika api
masih menyala sejak pagi. Besi dipanaskan hingga memerah. Setelah itu, seorang
pandai besi mengangkatnya dan meletakkannya di atas landasan. Kemudian palu dipukulkan, Sekali, Dua kali, Berkali-kali.
Setiap pukulan bukan sekadar untuk memukul logam. Di
dalam pekerjaan itu ada pengetahuan tentang panas, kekuatan, ketebalan, dan
bentuk. Terlalu keras, besi dapat rusak. Terlalu lama dibiarkan dingin,
bentuknya tidak dapat lagi dikerjakan dengan baik. Para penempa terdahulu
memahami pekerjaan itu melalui pengalaman dan warisan pengetahuan.
Bilah pusaka pada masa itu bukan hanya alat. Bagi
masyarakat, ia juga memiliki nilai kehormatan. Ia dapat berkaitan dengan
keberanian, martabat, dan sejarah keluarga. Karena itulah,
penempaan De'de' Taeng menjadi salah satu bagian penting dalam ingatan budaya
masyarakat.
Namun, api penempaan itu kini tidak lagi menyala
seperti dahulu. Tradisi
penempaan masih dikenang, tetapi kegiatan menempa tidak lagi dijalankan.
Menurut cerita yang diwariskan, ada pesan dari leluhur yang harus dihormati.
Pesan itu menjadi alasan mengapa tradisi tersebut tidak lagi dilanjutkan dalam
bentuk praktik penempaan.
Bagi orang luar, mungkin keadaan itu terlihat sebagai
hilangnya sebuah tradisi. Namun,
bagi masyarakat yang menjaganya, menghentikan kegiatan justru dapat menjadi bagian
dari penghormatan terhadap tradisi itu sendiri. Kadang-kadang, menjaga
warisan bukan berarti terus mengulang apa yang dilakukan oleh leluhur. Kadang,
menjaga warisan berarti juga menjaga pesan yang mereka tinggalkan.
Api mungkin tidak lagi menyala, Palu mungkin tidak
lagi terdengar, Tetapi
cerita tentang De'de' Taeng masih tinggal. Dan selama cerita itu
masih diingat, jejak tradisi itu belum benar-benar hilang.
Rumah yang Menyimpan Cerita
Jika seseorang berjalan dan memperhatikan Kampung Taeng,
ia akan menemukan rumah-rumah tua yang menyimpan kisah lebih dari sekadar
bentuk bangunan. Di
antaranya terdapat Balla Kamokkingang dan Balla Anrong Guru Taeng. Rumah-rumah ini masih
berdiri sebagai saksi perjalanan waktu. Kayu-kayu tua mungkin
telah melihat beberapa generasi datang dan pergi. Tangga rumah telah dilalui
oleh banyak orang. Di dalam ruang-ruangnya pernah berlangsung pertemuan,
pembicaraan, dan kegiatan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat.
Balla Kamokkingang berkaitan dengan keberadaan Anrong
Guru Mokking, seorang pejabat yang dalam tradisi masyarakat dikenal
memiliki hubungan dengan urusan keagamaan dalam lingkungan Kerajaan Gowa. Sementara itu, Balla
Anrong Guru Taeng berkaitan dengan Anrong Guru Taeng, tokoh yang
memiliki peranan dalam kehidupan pemerintahan dan masyarakat Taeng.
Dahulu, rumah bukan sekadar tempat seseorang beristirahat
bersama keluarganya. Rumah
dapat menjadi pusat kehidupan. Di
sanalah orang menerima tamu. Di sanalah persoalan dibicarakan. Di sanalah
keputusan mungkin diambil. Di sanalah benda-benda penting dijaga. Karena itu, keberadaan
rumah-rumah tersebut sangat penting bagi sejarah Taeng.
Masih terdapat pula rumah yang digunakan untuk
menyimpan benda-benda regalia yang berkaitan dengan Anrong
Guru Taeng. Benda-benda itu dijaga sebagai bagian dari peninggalan dan
penghormatan terhadap sejarah kepemimpinan terdahulu. Rumah dan benda tidak
dapat berbicara dengan kata-kata. Tetapi
bagi mereka yang memahami ceritanya, keduanya menyimpan banyak suara dari masa
lalu.
Tempat Orang-Orang Dipersiapkan
Dalam ingatan masyarakat Taeng, kampung ini juga
memiliki hubungan dengan proses pembentukan putra-putra kerajaan dan calon tubarani. Tubarani adalah gambaran tentang
keberanian. Namun keberanian tidak selalu datang begitu saja. Ia dibentuk
melalui latihan, pengalaman, kedisiplinan, dan tanggung jawab.
Dalam masyarakat yang hidup dekat dengan kerajaan,
keberanian memiliki arti penting. Seorang laki-laki tidak hanya diharapkan kuat
secara fisik, tetapi juga memiliki harga diri dan kesanggupan untuk menjaga
kehormatan. Karena
itu, Taeng dikenang pula sebagai salah satu tempat yang berkaitan dengan
pembentukan manusia-manusia yang dipersiapkan untuk menjalankan peran dalam
kehidupan kerajaan.
Tidak semua bagian dari masa lalu itu kini dapat
dilihat secara utuh. Banyak
yang hanya tinggal dalam cerita. Namun, cerita juga merupakan
bagian dari sejarah. Sebab
sebelum sejarah ditulis dalam buku, manusia terlebih dahulu menyimpannya dalam
ingatan.
Sungai yang Menghubungkan
Sungai Jeneberang terus mengalir melewati perjalanan
waktu. Orang-orang
datang dan pergi. Kerajaan berubah. Jalan-jalan baru dibangun. Perahu tidak
lagi menjadi satu-satunya jalan. Kampung tumbuh semakin ramai. Tetapi sungai tetap
menjadi bagian dari lanskap sejarah Taeng.
Pada masa lalu, sungai menjadi jalur yang
menghubungkan kampung dengan kawasan lain. Hubungan Taeng dengan Sungai
Jeneberang menjadikannya bagian dari pergerakan yang lebih besar dalam wilayah
Kerajaan Gowa. Dari
aliran-aliran inilah manusia saling bertemu, Barang berpindah, Cerita menyebar, Kebudayaan berkembang.
Karena itu, ketika berbicara tentang sejarah Taeng,
sungai tidak dapat dipisahkan dari kisah kampung ini. Sungai adalah salah satu
saksi yang diam-diam melihat perubahan. Ia melihat generasi
terdahulu, Ia
melihat generasi sekarang, Dan
mungkin, ia juga akan melihat generasi yang belum lahir.
Taeng yang Tetap Bertahan
Tidak semua yang pernah ada di Kampung Taeng masih
dapat ditemukan dalam bentuk yang sama. Penempaan bilah tidak lagi
beroperasi. Sebagian
cerita mulai jarang diceritakan. Orang-orang yang mengetahui
sejarah lama semakin sedikit. Namun,
Taeng belum kehilangan seluruh warisannya. Alat tenun masih
bergerak. Corak
lama masih dikenal. Rumah-rumah
kalompoang masih berdiri. Benda-benda
peninggalan masih dijaga. Nama-nama
para tokoh masih disebut dalam cerita. Itulah yang membuat sebuah
kampung tetap memiliki hubungan dengan masa lalunya.
Sejarah bukan hanya tentang sesuatu yang telah
selesai. Sejarah juga tentang apa yang masih tersisa. Kadang sejarah tinggal
dalam sebuah bangunan, Kadang
tinggal dalam sehelai kain, Kadang
tinggal dalam benda tua yang disimpan dengan hati-hati, Dan kadang, sejarah
tinggal dalam ingatan seorang tua yang sedang bercerita kepada anak cucunya.
Penutup: Sebuah Kampung, Sebuah
Ingatan
Kampung Taeng adalah kampung yang tumbuh bersama
perjalanan sejarah Gowa. Dari nama yang diyakini berasal dari Poko' Taeng, dari
kedekatannya dengan Sungai Jeneberang, hingga hubungannya dengan kehidupan
Kerajaan Gowa, semuanya membentuk perjalanan panjang kampung ini.
Taeng adalah tempat para penenun menjaga benang dan
corak, Tempat
para penempa dahulu menjaga api dan besi, Tempat rumah-rumah kalompoang
menyimpan jejak kepemimpinan, Tempat
benda-benda regalia dijaga sebagai pengingat masa lalu. Dan tempat cerita
tentang leluhur terus berusaha bertahan di tengah perubahan zaman.
Mungkin suatu hari nanti, orang-orang tidak lagi
dapat menyaksikan semua yang pernah ada di Taeng. Waktu akan terus berjalan.
Generasi akan berganti. Bentuk kehidupan akan berubah. Tetapi selama masih
ada yang menenun dan mengenal corak leluhurnya, selama rumah-rumah tua masih
dirawat, selama nama De'de' Taeng masih disebut, dan selama orang tua masih
menceritakan kisah kampungnya kepada generasi muda, maka Taeng akan tetap
hidup.
Sebab sebuah kampung tidak hanya dibangun oleh rumah
dan jalan. Sebuah
kampung dibangun oleh ingatan. Dan
selama ingatan itu masih dijaga, Taeng akan selalu memiliki cerita
untuk diceritakan kembali.
Komentar
Posting Komentar