PROFIL TOKOH BUDAYA
Jamaluddin Sirasaputra
Daeng Tika
Pencinta, Penggiat Sejarah dan Budaya,
serta Pelestari Warisan Leluhur
Pendahuluan
Kebudayaan merupakan bagian penting dari jati diri suatu
masyarakat. Di dalamnya tersimpan sejarah, nilai, pengalaman, serta pandangan
hidup yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Karena
itu, menjaga kebudayaan tidak hanya berarti mempertahankan bentuk kesenian atau
tradisi, tetapi juga merawat nilai dan makna yang terkandung di dalamnya.
Di tengah perubahan zaman, keberadaan para pelaku seni dan
penggiat kebudayaan menjadi sangat berarti. Mereka tidak hanya berperan sebagai
pelaku pertunjukan, tetapi juga sebagai penghubung antara warisan masa lalu
dengan kehidupan generasi masa kini.
Di antara sosok yang menaruh perhatian terhadap hal tersebut
adalah Jamaluddin Sirasaputra, yang lebih dikenal dengan nama Daeng Tika. Lahir
di Sungguminasa, Gowa, pada 23 Desember 1979, Daeng Tika tumbuh dalam
lingkungan keluarga yang memiliki hubungan erat dengan dunia seni pertunjukan.
Perjalanan hidupnya kemudian membawanya menjadi seorang seniman, penggiat
sejarah dan kebudayaan, sekaligus salah satu penggerak pelestarian budaya di
Desa Taeng, Kabupaten Gowa.
Tumbuh dalam Keluarga Seniman
Daeng Tika merupakan anak ketiga dari pasangan almarhum H.
Siradjuddin Daeng Bantang dan almarhumah Rukanti Kresnaningsih Daeng Rannu.
H. Siradjuddin Daeng Bantang dikenal sebagai maestro seni
pertunjukan Sulawesi Selatan. Sementara itu, Rukanti Kresnaningsih Daeng Rannu
merupakan seorang penari berdarah Jawa yang memiliki latar dalam seni
tradisional Jawa Timur.
Lingkungan keluarga tersebut memberikan pengaruh yang kuat
terhadap pembentukan Daeng Tika. Sejak berada dalam lingkungan keluarga
seniman, ia mengenal seni pertunjukan bukan semata-mata sebagai bentuk hiburan,
melainkan sebagai bagian dari kehidupan, identitas, dan kebudayaan.
Warisan keluarga tersebut kemudian menjadi salah satu dasar
perjalanan keseniannya. Apa yang diterimanya dari orang tua berkembang menjadi
dorongan untuk terus mempelajari, menjalankan, dan meneruskan seni serta
kebudayaan kepada generasi berikutnya.
Pendidikan Seni
Daeng Tika menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Karawitan
Indonesia (SMKI). Pendidikan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam
perjalanan profesionalnya sebagai pekerja seni pertunjukan.
Melalui pendidikan kesenian, pengalaman keluarga bertemu
dengan proses pembelajaran yang lebih terarah. Bagi Daeng Tika, seni pada
akhirnya tidak hanya menjadi bidang pekerjaan, tetapi berkembang menjadi bagian
dari pengabdian dan panggilan hidup.
Menapaki Panggung Internasional
Pada 1992, Daeng Tika mengikuti workshop seni lintas negara
di beberapa negara Eropa. Pengalaman tersebut menjadi salah satu awal
perjalanan internasionalnya sebagai pekerja seni.
Perjalanannya kemudian berlanjut ke Singapura pada 1995 dan
Australia pada 1996. Pada 1999, ia mengikuti kegiatan seni di Afrika Selatan,
khususnya di Johannesburg dan Cape Town.
Pada 2014, ia kembali melakukan perjalanan kesenian ke
beberapa negara Eropa. Rangkaian pengalaman tersebut memperluas ruang
perjumpaan budaya yang membentuk perjalanan profesionalnya.
Berkarya di Ruang Kebudayaan Nusantara
Pada 2017, Daeng Tika turut ambil bagian dalam Festival
Keraton Nusantara di Bima, Festival Keraton se-Asia Tenggara di Bandung, serta
Festival Yadnya Kasada di kawasan Tengger Bromo.
Pada 2019, ia turut serta dalam Festival Keraton di Cirebon.
Pada periode 2019–2021, ia menjadi bagian dari Toraja International Festival
selama tiga tahun berturut-turut.
Berbagai kegiatan tersebut mempertemukannya dengan tradisi
dan latar kebudayaan masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia.
Forum Seni dan Kebudayaan
Pada 2021, Daeng Tika tercatat sebagai salah satu seniman
yang hadir dalam kegiatan G20 di Bali. Setahun kemudian, pada 2022, ia menjadi
peserta Indonesia Music Expo (IMEX) di Ubud, Bali.
Kehadiran dalam berbagai forum tersebut menjadi bagian dari
perjalanan panjangnya dalam mempertemukan seni pertunjukan dengan ruang
kebudayaan yang lebih luas.
Meneruskan Warisan Sanggar Siradjuddin Gowa
Salah satu bagian penting dalam perjalanan Daeng Tika adalah
keberlanjutan Sanggar Siradjuddin Gowa, yang dibentuk oleh ayahnya, almarhum H.
Siradjuddin Daeng Bantang.
Bersama saudara-saudaranya, Daeng Tika turut mengelola dan
meneruskan keberadaan sanggar tersebut. Sanggar ini tidak hanya menjadi ruang
aktivitas seni, tetapi juga bagian dari warisan keluarga dan kesinambungan
pengabdian generasi sebelumnya.
Mengabdikan Diri bagi Budaya Taeng
Daeng Tika juga dikenal sebagai pecinta sejarah dan budaya,
khususnya budaya Makassar. Ia aktif menelusuri, menggali, dan membagikan
kembali nilai-nilai warisan leluhur kepada generasi muda.
Pada perkembangan berikutnya, ia dipercaya sebagai Ketua
Lembaga Kampung Budaya Taeng, yang bergerak di bidang pelestarian kebudayaan
yang ada di Desa Taeng, Kabupaten Gowa.
Peran tersebut memperluas kiprahnya dari seorang pekerja
seni pertunjukan menjadi penggerak pelestarian budaya di tingkat masyarakat.
Empo Sipitangarri dan Pendidikan Budaya
Salah satu perhatian Daeng Tika dalam pelestarian budaya
Taeng adalah Empo Sipitangarri. Tradisi tersebut dipahami sebagai kearifan
lokal yang mengandung nilai dialog, nasihat, teguran, penghormatan, dan
pembelajaran antargenerasi.
Dalam kehidupan masyarakat masa kini, nilai-nilai tersebut
tetap memiliki arti. Tradisi dapat menjadi ruang untuk mempertemukan generasi
yang lebih tua dan generasi muda, sekaligus menjadi sarana menyampaikan
pengalaman dan nasihat secara bijaksana.
Daeng Tika juga melihat pentingnya memanfaatkan media baru
untuk memperkenalkan tradisi kepada generasi muda, sehingga teknologi dapat
menjadi jembatan bagi pewarisan budaya tanpa menghilangkan nilai dasarnya.
Dari Warisan Menuju Pengabdian
Jika perjalanan Daeng Tika dilihat secara utuh, terdapat
kesinambungan antara keluarga, seni, perjalanan, dan pengabdian.
Ia menerima warisan seni dari keluarganya, memperdalamnya
melalui pendidikan, kemudian memperoleh pengalaman dari berbagai ruang
kebudayaan di dalam dan luar negeri. Pengalaman tersebut pada akhirnya kembali
diarahkan kepada akar budaya yang membentuk dirinya: Gowa dan Makassar.
Perjalanannya dapat dipahami sebagai proses menerima
warisan, mengenal keberagaman budaya, kemudian kembali untuk merawat dan meneruskannya.
Filosofi Kehidupan
“Temukan, kenali, dan lestarikan budayamu, karena budaya
merupakan warisan yang tak ternilai harganya dari para leluhur kita.”
Filosofi tersebut mencerminkan tiga langkah sederhana:
menemukan kembali warisan budaya, mengenali sejarah serta maknanya, dan
melestarikannya agar tetap hidup bagi generasi berikutnya.
Penutup
Jamaluddin Sirasaputra Daeng Tika merupakan sosok yang
perjalanan hidupnya tidak dapat dipisahkan dari seni dan kebudayaan. Lahir dari
keluarga seniman, menempuh pendidikan seni, melakukan perjalanan kesenian ke
berbagai negara, berpartisipasi dalam berbagai festival, serta kemudian
mengabdikan pengalaman tersebut bagi pelestarian budaya di Gowa dan Taeng.
Perjalanan itu menjadi pengingat bahwa kebudayaan bukanlah sesuatu
yang berhenti pada masa lalu. Ia dapat terus hidup selama ada orang yang
bersedia mempelajari, memahami, menjalankan, dan mewariskannya.
Melalui seni pertunjukan, Sanggar Siradjuddin Gowa, Kampung
Budaya Taeng, serta berbagai aktivitas pelestarian budaya, Daeng Tika mengambil
bagian dalam menjaga kesinambungan tersebut.
Pada akhirnya, pesannya menjadi ajakan yang sederhana bagi
setiap generasi: temukan budayamu, kenali maknanya, dan lestarikan untuk
generasi berikutnya.
Keterangan Dokumentasi
Foto utama: Jamaluddin Sirasaputra Daeng Tika. Foto
disediakan oleh pengguna untuk kebutuhan profil dan dokumentasi tokoh.
Garis Waktu Singkat
|
Tahun |
Kiprah |
|
1979 |
Lahir di Sungguminasa, Gowa, 23 Desember. |
|
1992 |
Workshop seni lintas negara di beberapa negara Eropa. |
|
1995 |
Kegiatan seni di Singapura. |
|
1996 |
Kegiatan seni di Australia. |
|
1999 |
Kegiatan seni di Johannesburg dan Cape Town, Afrika
Selatan. |
|
2014 |
Kembali mengikuti kegiatan seni di beberapa negara Eropa. |
|
2017 |
Festival Keraton Nusantara, Festival Keraton se-Asia
Tenggara, dan Festival Yadnya Kasada. |
|
2019 |
Festival Keraton Cirebon. |
|
2019–2021 |
Toraja International Festival. |
|
2021 |
Hadir dalam kegiatan G20 di Bali. |
|
2022 |
Indonesia Music Expo (IMEX), Ubud, Bali. |
|
Saat ini |
Mengelola Sanggar Siradjuddin Gowa bersama saudara dan memimpin Lembaga
Kampung Budaya Taeng. |

Komentar
Posting Komentar